Menyoal Etika Demonstrasi

Pagi yang gaduh. Selidik punya selidik, kegaduhan itu berasal dari fakultas sebelah yang sedang ramai-ramai mengungkapkan aspirasi mereka, bahasa kasarnya; demo. Yang ini bukan demo masak laiknya chef atau demo lagu seperti anak band, tapi demonstrasi mahasiswa. Ada banyak versi tentang sebab pecahnya demonstrasi itu, dan sayangnya kali ini bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Saya memang bukan mahasiswa aktivis dan tidak pernah sama sekali ikut berdemo, tapi kemudian hati kecil saya tergelitik ketika melihat seseorang yang membawa megaphone –dan   tampaknya seperti koordinator aksi- membuka pintu kelas yang tertutup dan membubarkan perkuliahan yang sedang berlangsung di kelas itu. Terlihat seorang dosen yang keluar dari kelas itu dan berbicara dengan koordinator aksi itu. Tapi tak lama kemudian, perkuliahan di kelas itu benar-benar bubar, dan massa menyegel pintu dengan menumpuk kursi di depan pintu kelas. Yel-yel dan lagu pergerakan mahasiswa terdengar bersahut-sahutan.

Lalu saya jadi bertanya-tanya, bukankah mendapat pendidikan adalah hak setiap warga negara yang diatur oleh undang-undang? Lantas, mengapa yang (terkesan) menjadi legalitas untuk merampas hak mendapat pendidikan mahasiswa di kelas tersebut adalah lagu-lagu pergerakan yang dulu konon digunakan untuk mengkritisi rezim tirani yang berkuasa saat itu? Ataukah karena saking memuncaknya kekesalan para demonstran sehingga mereka melakukan hal seperti itu?

Saya jadi teringat ketika televisi ramai-ramai memberitakan kekisruhan demo yang membawa serta kerbau yang bertuliskan SBY. Seorang pengamat dalam sebuah wawancara televisi mengutarakan tentang “aturan dan etika demonstrasi”. Ya! Selama ini memang tidak pernah ada aturan yang mengatur tentang etika demonstrasi, mungkin hanya sekedar tata cara formalitas, berupa pemberitahuan pada pihak yang berwajib, dan sebagainya. Tapi tidak ada aturan yang membatasi etika demonstrasi, tidak boleh membawa binatang ternak, misalnya, atau dalam kasus yang saya paparkan adalah tidak boleh membubarkan perkuliahan.

Undang-undang memang menjamin hak pengungkapan pendapat warga negaranya, tapi seyogyanya pengungkapan pendapat itu tidak melanggar norma dan tidak timpang dengan melangkahi hak yang dimiliki orang lain.

Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s