Catatan 7 Harian untuk Sahabat

Nggeh sedanten niku nandur,” ucap Bapak dari Saiful, temanku. Ketika mengucapkannya, beliau menahan haru sampai matanya berwarna merah. Dari sekian ribu kata yang kami obrolkan, kalimat itulah yang kurasa penuh arti.

***

                Selasa, 14 Juni 2011. Rumah asri di daerah Buncitan, Sedati ramai dengan beberapa orang. Beberapa di antaranya di sibuk di dapur, di depan pembakaran ikan di halaman samping, sebagian lagi sibuk nongkrong di teras depan. Saiful, sang pemilik rumah terlihat sibuk membuat bumbu untuk bakar ikan. Semua orang bahagia hari itu, termasuk aku. Siapa yang bawaannya tak bahagia jika ada makan-makan gratis, rame-rame bareng temen-temen, menunya ikan bakar nan lezat pula.

Tapi siapa sangka, dua tahun selanjutnya, 18 Desember 2013 tepatnya aku dan beberapa temanku kembali lagi ke rumah itu. Masih tetap asri dan bersih seperti kali terakhir kami ke sana. Kami rame-rame dengan para tetangga, ada menu makanan sate, bukan ikan bakar seperti dulu. Tapi bedanya, kami sedang tak bahagia, dan bukan Saiful lagi yang menjamu kami, teman-temannya. Hanya orangtua, kerabat dan para tetangganya. Dia pindah rumah tepat di depan rumahnya. Tempat persemayaman abadi.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar itu sungguh sulit dipercaya. Dan yang paling kusesali, baru pada hari kelima aku mendengar kabar duka itu. Aku dan Saiful memang tidak intens berkomunikasi, dan kami memang tidak punya kedekatan khusus. Terakhir kali kami ketemu pada waktu bakar ikan ramai-ramai di rumahnya, dua tahun lalu. Komunikasi terakhir kami, ah aku lupa. Dan jujur, sebenarnya aku juga tidak terlalu ingat dengan wajahnya dan nama lengkapnya. Yang aku ingat hanya beberapa potong slide hidup ketika berbicara atau berinteraksi (langsung/tidak) dengan dia, termasuk ketika dia menyuruhku mengajar di diniyah dekat rumahnya, dan ajakan dia untuk makan kepiting asam manis.

Sebenarnya aku dan dia baru kenal saat itu, ketika mengurusi sebuah acara untuk alumni di dekat rumahnya. Dengan ikhlas dia membantu semua persiapan yang aku dan teman-temanku butuhkan demi kesuksesan acara, berupa moril dan materil. Kedekatannya dengan tokoh besar, khususnya para tokoh di yayasan kami membuat kami dengan mudahnya mendatangkan para tokoh itu. Acara itu pun terbilang sukses. Tak sampai di situ, dia mengundang kami ke rumahnya untuk bakar-bakar ikan, dan secara formal acara bakar-bakar ikan bertajuk ‘pembubaran panitia’.

Dengan ditemani Sukron, (saat itu kami jadian baru seminggu), dengan kocek sendiri Saiful berbelanja berbagai macam ikan, arang, dan berbagai peralatan untuk bakar ikan. Dengan cekatan dia membuatkan bumbu bakar ikan, menyiapkan tempat pembakaran, dan banyak hal lain yang dilakukannya untuk kami. Sepertinya sengaja dia ingin memuaskan para tamunya, menjamu tamunya dengan jamuan yang sesempurna mungkin. Ibunya—yang aku juga tidak tahu namanya—juga terlihat sibuk membakar ikan bersama teman-teman.

Begitu semua matang, kami makan dengan bahagia dan penuh canda tawa. Semua ikan plus nasi pun ludes, berpindah dari piring ke perut-perut kami yang lantas membuncit. Semua ceria, semua bahagia. Aku dan Sukron juga bahagia, tapi ada semacam sungkan yang menelisip ke hati kami. Sungkan karena sangat merepotkan Saiful dengan membawa teman-teman banyak yang lahap semua. Sungkan dengan semua kebaikan-kebaikan tanpa pamrihnya yang ia berikan kepada kami.

“Halah, yo gak opo-opo. Kapan maneh iso ngene,” jawabnya (seingatku) kala aku dan Sukron berbincang dengannya usai makan-makan. Ketika teman-teman lain sudah berpamitan, aku, Sukron, dan Saiful masih harus membereskan sesuatu kepada seorang tetangganya yang juga satu alumni dengan kami. Ibu, yang konon menjadi mantan calon mertua Saiful, juga turut serta membantu dalam kesuksesan acara kami. Dan sore itu pun berakhir dengan indah. Setelah hari itu, beberapa kali aku sempat berkirim pesan singkat dengan dia, dan berencana bakar-bakar ikan lagi. Tapi ternyata, Allah lebih menyayanginya daripada kami semua.

Dari cerita-cerita yang dikisahkan bapaknya, kami berkesimpulan bahwa teman kami ini memang benar-benar orang baik. Tak perlu menunggu jadi tua dan memegang jabatan penting agar kematian kita dilawat para tokoh besar dan rumah duka kita disesaki para pen-takziyah. Saiful membuktikannya. Aku perkirakan, usianya belum juga genap 30 tahun, dia juga bukan pejabat. Tapi dia menabur benih-benih kebaikan sekecil apapun pada semua orang. Pada keluarga, masyarakat sekitar, guru-guru, teman-temannya, hingga kami semua merasa berutang budi kepada dirinya. Kepergiannya pun seolah menorehkan luka dalam pada kami semua yang merasa kehilangan.

Aku yakin, dia dilahirkan untuk membuat semua orang bahagia. Kalau boleh kami memilih, kami ingin dia tinggal lebih lama untuk membuat kebahagiaan yang lebih besar lagi. Tapi Allah Maha Tahu. Allah mengambilnya dari kami, saat ini, agar Saiful meninggalkan kenangan-kenangan indah pada kami semua.

Beristirahatlah dengan tenang, Sahabat. Ragamu boleh tiada, tapi jiwa, kebaikan, dan semangat juangmu akan tetap abadi dalam memori kami.

Gambar

Caption: Saya dan teman-teman sedang menikmati ikan bakar di rumah (Alm.) Saiful, 14 Juni 2011

Terimakasih untuk secuil kebahagiaan yang kaubagi untuk kami.

Rabu, 18 Desember 2013

13.30 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s