Bukan Kekurangan, Melainkan Keistimewaan

Jika hidup adalah pilihan, maka Ucok, sebut saja demikian, tidak pernah memilih dilahirkan dengan  tangan dan  kaki yang tidak tumbuh sempurna.  Namun, ia tak pernah meratapi nasibnya.  Sebaliknya, keterbatasan yang ia miliki adalah kelebihan mereka.  Dengan kekuatan mimpi, dirinya terus berdaya dan percaya bahwa mimpi itu nyata.

Sekitar dua tahun lalu, saya bersama seorang kawan bertamu ke rumah seorang perajin handicraft  ternama di Surabaya untuk wawancara.  Pertama kali sampai, saya agak kaget karena yang menemui saya bukanlah ibu yang hendak saya wawancara, melainkan seorang lelaki berusia kira-kira menjelang 30 tahun,  dengan tinggi badan sekira 50 cm dan tangan dan kaki yang tidak tumbuh sempurna.  Diamemperkenalkan namanya pada kami, Ucok. Kekagetan saya, pertama karena tubuhnya yang istimewa.  Kedua, saya bertanya-tanya di usaha handicraft ini apakah dia juga ikut membuat kerajinan? Sebelumnya, saya pernah dengar di tempat ini memang karyawannya banyak yang disabilitas, namun, tidak pernah terbayangkan jika ada menyandang tunadaksa seperti bapak Ucok ini. Kekaguman saya selanjutnya adalah matanya yang berbinar. Saya bisa melihat optimisme di matanya, tidak canggung, cenderung percaya diri. Bahkan, ketika ada tamu kunjungan dari tim Puteri Indonesia provinsi saya, Ucok dengan leluasa menjadi pemandu bagi para tamu tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan saya mulai terjawab ketika mengobrol dengan Titik, pemilik usaha rumahan yang telah merambah pasar luar negeri ini. Ia mengatakan karyawan yang ada di tempatnya adalah tunadaksa dan anak-anak putus sekolah. Jangan berpikir mereka dieksploitasi! Sebaliknya, para tunadaksa tersebut diberdayakan sehingga mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Terlebih, usaha rumahan ini mempunyai yayasan yang bisa membiayai keseharian para karyawan. Jadi, di samping mereka dipekerjakan dan disediakan tempat tinggal, kebutuhan harian mereka juga  dicukupi. Praktis, gaji yang mereka dapatkan pun dapat ditabung. Lantas, bagaimana mereka melakukan pekerjaan seperti menjahit, mengobras, menyulam,  dan sebagainya? Semua pekerjaan itu disesuaikan dengan kondisi mereka. Jika tangan tidak dapat digunakan, maka dipakailah kaki, dan seterusnya. Titik mengatakan, ia memakai jasa para tunadaksa pertama karena ingin memberdayakan, dan yang kedua, mereka lebih telaten mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan seperti menjahit, dan sebagainya. Siapa sangka, niat mulia Titik untuk membantu penyandang tunadaksa diganjar penghargaan Micro Credit Award dari PBB. Ada banyak pelajaran yang saya dapat dari kunjungan ke usaha handicraft milik ibu Titik ini,  terutama setelah melihat dari dekat aktivitas para karyawan. Benarlah kiranya, keterbatasan bukanlah penghalang untuk hidup. Bisa jadi para disabilitas dianggap tidak sempurna daripada manusia lainnya, namun ketidaksempurnaan mereka adalah keistimewaan mereka. Mereka yang mempunyai keistimewaan sedemikian rupa saja mampu bertahan hidup, berdaya, serta mengaktualisasikan dirinya, bagaimana dengan kita yang diberi kelengkapan dan kenormalan organ tubuh oleh Tuhan? Sudahkah kita berupaya dengan sebaik-baiknya? Dengan melihat orang-orang di sekeliling kita yang istimewa dan kurang beruntung, maka kita akan bersyukur dengan hidup yang kita jalani. Namun, lebih indah kiranya jika kita punya semangat berbagi kepada mereka. Jangan pernah kita biarkan api dalam jiwa mengecil lalu redup! #MenjagaApi Your life’s suck? Think again!

Ucok sedang menjelaskan cara menjahit kepada Putri Indonesia dari Jatim tahun 2013
Ucok sedang menjelaskan cara menjahit kepada Putri Indonesia dari Jatim tahun 2013
IMG_0005
Beberapa kerajinan hasil karya ‘Tiara Handicraft’, usaha rumahan milik Bu Titik
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s