Rajungan Remason, Pedasnya Sampai Ubun-ubun

Mendengar namanya, jangan anggap makanan ini dimasak menggunakan balsem atau sejenisnya. Coba saja dulu kuahnya barang sesendok, Anda pasti tahu alasan di balik nama makanan ini.

IMG_0201
Sluuurp.. kuahnya itu loo!

Bagi sebagian orang, terutama penggila makanan pedas, nama kuliner satu ini sudah tidak asing lagi. Ketik saja “rajungan remason” di internet, pasti akan muncul seabrek testimoni orang-orang yang telah mencicipi makanan ini.
Rajungan remason hanya ada di warung Manunggal Jaya. Tempat makan yang terletak di Jl Manunggal, Kota Tuban ini menyediakan berbagai menu pilihan yang didominasi rasa pedas, dan yang paling terkenal adalah rajungan remason.

Menurut pengakuan Bu Ismu, pemilik warung, menu rajungan di warungnya sebenarnya tidak bernama rajungan remason, namun seorang wartawan televisi lokal yang memberi nama tersebut. Tidak heran, jika warga sekitar lebih familiar dengan nama rajungan manunggal.

Jika Anda bukan penggemar masakan pedas, disarankan pilih menu yang lain saja. Tapi kalau penasaran, setengah porsi rajungan remason rasanya sudah cukup menjawab rasa penasaran.

Sejak awal mula dihidangkan, aroma rajungan remason yang masih panas sangat menggoda selera. Begitu mulai menyeruput kuahnya yang kental, akan merasakan sensasi yang luar biasa.

Kuah yang masih panas dan super pedas memberi efek panas di lidah, mulut, dan perut. Apalagi kalau sudah memakan rajungan, dijamin sensasi pedasnya sampai ubun-ubun dan membuat keringat meleleh dari ujung kepala sampai ujung kaki.

nyam-nyam, huh-hah, huh-hah.. pedese reek!
Nyam-nyam, huh-hah, huh-hah.. pedese reek!

Huda, salah satu pengunjung dan penikmat rajungan reason asal Tuban mengakui kepedasan menu masakan ini, meski dia sudah biasa makan makanan khas Tuban yang pedas.

“Hati-hati, makan kuahnya jangan banyak-banyak! Aku yang asli Tuban saja nggak kuat,” ujar Huda sambil melahap rajungan pesanannya. Keringat pun mulai membanjiri wajahnya.

Sekedar saran, jangan makan rajungan ini tanpa sendok, karena akan meninggalkan rasa panas di tangan (Jawa: wedangen).

Meski banyak tamu yang kepedasan dan mengaku kapok, namun nyatanya mereka berkali-kali mengunjungi warung makan ini karena kangen dengan rasa rajungannya. Praktis, kuliner satu ini mempunyai penggemar dari ujung timur pulau Jawa sampai ujung barat Jawa Timur. Bahkan, banyak pelanggan berasal dari wilayah Pantura Jawa Tengah.
Harga yang dipatok relatif terjangkau, satu porsi nasi dan rajungan yang berisi 2-3 rajungan berukuran sedang dijual dengan harga sekitar Rp 40.000. Selain rajungan, warung makan ini juga menyediakan sate kambing, gulai, dan menu-menu lain yang tak kalah pedasnya. Berani mencoba?

Yeyyy! akhirnya habis juga. Meskipun sebenarnya saya cuma makan 1 ekor aja siy, itu pun gak utuh. wkwkwkwk :p
Yeyyy! akhirnya habis juga. Sebenarnya saya cuma makan 1 ekor aja siy, itu pun gak utuh. wkwkwkwk :p  Tapi sumpah lezat! Meski ga begitu doyan pedas, begitu membayangkan rasanya, air liurnya gak berhenti menetes. 😀

 

(ulviyatun ni’mah)

Iklan

9 thoughts on “Rajungan Remason, Pedasnya Sampai Ubun-ubun”

    1. Kalo berdasarkan penjelasan orang Tuban, rajungan hidup di laut dan bisa dikenali dengan cangkangnya yang ada totol2 putih, Kang. Nah, kalo kepiting bisa hidup di laut, air payau dan di sungai. Biasanya kita bisa nemui kepiting di daerah tambak, dan nemui rajungan di daerah laut, kayak Tuban. Terimakasih.
      Semoga bisa diterima ya jawaban saya. 🙂

      Disukai oleh 1 orang

    1. Terimakasih sudah berkunjung dan merespon. Sejujurnya saya gak pernah makan di angkringan seafood, kasian banget ya saya. wkwkwkwk. Tapi mudah saja kok bedainnya, kalo ada totol2 putih berarti rajungan, kalo gak ada totol2nya berarti kepiting. 🙂

      Suka

      1. Iya, emang kurang teliti lidahnya. Pokoknya enak, langsung hap deh. hahaha.
        Btw, sepertinya kuliner di Bintaro enak2 ya. Sayangnya jauh..harus ke Bintaro dulu. 😀

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s