Remaja dan Penanggulangan HIV-AIDS

taken from googleimages
Peduli AIDS. (Taken from googleimages)

Sejak kemunculannya pada 1981, AIDS (Acquired immune deficiency syndrome) yang disebabkan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) menjadi semacam momok menakutkan bagi masyarakat. Terlebih, stigma negatif yang melekat pada HIV/AIDS membuat para penderita (baca: ODHA), aktivis dan petugas kesehatan yang merawat ODHA juga kerap dicap miring oleh masyarakat.

AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Hubungan seks berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, dan dari ibu positif HIV ke anak adalah penyebab terbanyak penularan penyakit ini.

Penanganan HIV-AIDS yang telah ada di dunia dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. Penelitian dan percobaan masih terus dilakukan untuk menemukan obat yang bisa menyembuhkan HIV-AIDS. Terbaru, penelitian yang dilakukan Universitas Airlangga Surabaya menyebutkan bahwa teh hijau mempunyai dampak positif bagi penderita HIV-AIDS.

Di Indonesia sendiri, AIDS baru ditemukan pada 1987 di Bali. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Kementerian Kesehatan dan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana) adalah institusi milik pemerintah yang menangani HIV-AIDS di Indonesia. Di luar institusi milik pemerintah tersebut, banyak bermunculan organisasi atau komunitas yang bergerak dalam bidang yang sama, yakni penanggulangan, pencegahan hingga perawatan ODHA.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (hingga September 2014), jumlah kasus HIV yang ditemukan di Indonesia mencapai 150296. Sedangkan kasus AIDS ditemukan sebanyak 55799 kasus dan mayoritas penderitanya adalah ibu rumah tangga. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya berada dalam usia produktif (20-50 tahun), yakni mencapai 36116 kasus.

Remaja sebagai Garda Terdepan

“Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia.” Begitu kata Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Pemuda diakui mempunyai banyak potensi untuk memberi perubahan bagi suatu negara (masyarakat).

Terkait dalam pencegahan, penanggulangan serta sosialiasi HIV-AIDS, pemuda (remaja) dapat menjadi garda terdepan dalam hal ini. Melalui ‘kekuatan’ yang dimiliki para remaja mulai dari koneksi pertemanan, komunitas dan semacamnya, remaja dapat menjadi formula tepat untuk mencegah bertambahnya penderita HIV-AIDS. Remaja juga bisa menjadi agen yang memberi pemahaman kepada masyarakat sehingga stigma kepada ODHA bisa perlahan hilang. Kesadaran masyarakat akan penyakit ini pun juga bisa tumbuh.

Potensi demikian sebaiknya ditangkap guru di sekolah atau senior suatu komunitas untuk memanfaatkan potensi remaja. Tentunya, pengarahan serta bimbingan wajib dilakukan oleh guru atau senior mengingat usia remaja yang masih labil.
Sebelum bergerak ‘terjun’ kepada masyarakat, para remaja yang akan diplot menjadi agen di tengah masyarakat harus dibekali dengan pemahaman yang utuh tentang HIV-AIDS. Pemahaman yang menyeluruh penting diberikan dan dilakukan remaja agar mereka bisa mawas diri. Dengan memulai dari diri sendiri, para remaja akan lebih mudah mengajak teman-teman sebaya dan memberi pemahaman kepada masyarakat.

Kesibukan remaja dalam mempelajari serta menyosialiasikan HIV-AIDS pada masyarakat secara tidak langsung juga akan mengurangi waktu dan perhatian remaja pada aktivitas negatif yang bisa menyebabkan virus HIV, misalnya penyalahgunaan narkoba dan seks bebas. (Ulviyatun Ni’mah)

*Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba tentang AIDS dan Remaja, dan sayangnya, tidak menang. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s