Dilarang Pacaran!

Oleh: Ulviyatun Ni’mah

Stop!
Stop!

Ghea masih sesenggukan di depanku, sengaja kusediakan sekotak tisu di depannya untuk mengusap air matanya. Bekas tisu-tisu yang dia gunakan untuk mengelap tangisnya berserakan di sekitar tempat tidurku. Beruntung Reni, teman sekamarku sedang kuliah. Coba kalo tidak, sebagai gadis pecinta kebersihan pasti dia akan mengomel panjang dan lebar menyaksikan pemandangan yang membuat matanya gerah ini.

Tapi aku sedang tidak memikirkan masalah itu, otakku hanya sibuk mencari kata-kata yang pas dan mengena untuk menyelesaikan masalah cewek patah hati di depanku ini.

“Kali ini, sebagai temenmu aku ngga’ bisa tolerir lagi, lupakan dia!” kataku tegas, setelah mengambil nafas panjang. Aku tak sampai hati melihat airmatanya jatuh terlalu banyak, karena sejujurnya, aku seperti melihat diriku beberapa waktu lalu. Persis seperti Ghea, hancur.

Kulihat ada segurat kekecewaan di wajah Ghea yang sembab. Setengah jam yang lalu dia mendatangiku yang sedang asik baca novel di kamar. Saat itu dia datang dengan mata merah menahan tangis, dan ketika kata-kata meluncur deras dari bibirnya, air matanya tumpah. Dia patah hati untuk kesekian kali, setelah sebelumnya mantan yang dipacarinya lagi menyakitinya, menduakan cintanya, lagi!

Aku bisa membayangkan betapa remuk perasaannya, karena dari curhat-curhat yang selalu rutin dia perdengarkan padaku aku tahu dia sangat mencintai lelaki yang yang telah menyakitinya berkali-berkali itu. Dan aku pun tahu, ketika dia datang kali ini dia berharap aku akan membesarkan hatinya, memantapkan pilihannya untuk tetap mencintai lelaki itu, tapi ternyata jawaban yang kuberikan meleset jauh dari perkiraannya.

Pada akhirnya Ghea melangkah keluar dari kamarku dengan langkah gontai, sengaja aku biarkan dia bermain dengan pikirannya, mempertimbangkan solusi-solusi yang telah kuberikan tadi. Dunia ini terlalu sempit jika hanya dipenuhi dengan romantika sesaat seperti itu. Ah, gara-gara pola pikirku seperti ini, tak jarang aku dicap aneh, abnormal, atau malah ada yang curiga aku penyuka sesama (Na’udzubillah..) oleh teman-teman di sekitarku.

Maklum, dunia kampus memang identik dengan “masa pencarian” yang berwujud dengan romantika semacam itu. Dan menurut mereka, aku sengaja menciptakan jarak dengan dunia seperti itu. Bukannya aku tak pernah mengalami asam-manisnya cinta, justru karena telah banyak merasakannya, aku bosan (atau malah trauma??) dengan dunia itu, dan saat ini aku memilih untuk menghabiskan waktu ngampusku untuk banyak hal yang “lebih berguna” menurutku; kuliah, perpus, ngerjain tugas dan sambil sesekali ikut organisasi intra kampus.

Dulu, atau lebih tepatnya dua bulan sebelum aku memasuki jenjang kuliah, kisah cinta yang telah aku bina selama kurang lebih tiga tahun berakhir dengan pengakuan mantanku tentang pengkhianatan yang dilakukannya dalam setahun terakhir hubungan kami. Praktis, aku limbung. Dan jujur saja, tidak hanya sekali dalam otakku berkelebat keinginan untuk mengakhiri hidup. Beruntung akal sehatku masih bisa kugunakan dan pada akhirnya aku tidak sampai melakukan hal itu. Makanya, tak heran kalau teman-teman yang curhat padaku selalu kuberi solusi untuk menjauhi pacaran, mungkin solusi pertama aku masih mengikuti keinginan mereka untuk tetap berpacaran, tapi untuk kesekian kalinya, ga’ akan ada ampun. Sederhana saja sebenarnya, aku tidak ingin teman-temanku mengalami hal mengerikan seperti aku.

Terkadang aku juga berpikir untuk berkonsultasi pada ahli, psikiater mungkin. Karena takutnya trauma ini akan berlanjut di kehidupan mendatang, aku khawatir pada akhirnya aku masih saja takut untuk mencintai seseorang, apalagi menikah.

# # #

Tapi akhir-akhir ini ada yang lain terjadi dalam hidupku, dan jujur, ini sedikit mengganggu. Bisa dikatakan ini adalah cobaan “medium”ku untuk satu komitmen yang kuajukan untuk diriku sendiri. Mungkin saja ini akan menjadi batu sandungan bagi kelangsungan hidupku kelak, tapi tak menutup kemungkinan juga justru ini menjadi batu pijakan untukku.

Aku terhenyak ketika di tengah-tengah dosen memberikan kuliah hapeku bergetar, ada sms masuk. Penasaran aku membacanya dan kemudian mengembalikan hape ke sakuku lagi. Tapi sejak membaca sms itu aku tak mampu lagi konsentrasi di kelas. Beruntung lima menit kemudian bel berbunyi.

“Hei, Re. Bisa ngomong bentar?” sapa sebuah suara dari belakang mengagetkanku. Sesosok jangkung telah berdiri di depanku. Kak Ari, seniorku.

“Ada apa kak? Jelangkung lagi?” candaku menutupi kegugupan. Kami tertawa. Lama kami tidak kontak, bahkan lewat sms saja tidak, terakhir kali di pembicaraan kami sebulan lalu, dia curhat kalo dia sering dihantui ma jelangkung, parahnya, karena sensitifitasku yang relatif tinggi, aku merasa kalo yang selama ini dia sebut jelangkung adalah aku. Haha.., dasar tukang GR!

“Mo ngebahas masalah temen-temen?” tanyaku setelah kami duduk di kursi kantin kampus. Ini pertemuan pribadi yang pertama buat kami, sebelumnya kami hanya bertemu di acara organisasi saja, atau di ruang privat bermedia hape. Makanya, jujur saja, kegugupanku belum juga hilang demi menghadapi cowok yang kuliah tiga tingkat di atasku ini meski telah lima belas menit kami bertemu.

“Abis ini ada jam?” tanyanya balik. Aku menggeleng singkat sambil menyeruput es jeruk yang tadi kupesan.

“Ada apa’an siy?” tanyaku penasaran. Kuberanikan diri mencoba mencari jawaban dari matanya yang hitam kebanyakan begadang itu, tapi tak kutemukan apa-apa. Karena memang matanya tak juga bertatapan denganku.

“Ga da apa-apa, Cuma pengen nraktir kamu aja” ujarnya polos sambil mengeluarkan sebungkus rokok kretek berwarna hijau dan sebuah korek dari saku jaketnya.

“Baik hati banget siy kak, tau aja kalo aku lagi bokek, hehehe” aku nyengir kuda. Agak salting juga sebenarnya, takut kalo-kalo dia mengucapkan sesuatu yang selama ini aku bayangkan.

Beberapa lama kami terdiam, asik makan bakso yang kami pesan, sambil menata ulang pikiran-pikiran GR-ku, aku sengaja makan berlama-lama.

“Masih dihantui ma jelangkung?” suaraku memecah keheningan antara kami berdua.

“Iya, aku suruh pergi tetep aja ngga’ mau” katanya, tanpa mengalihkan pandangan dari bakso yang sedang dimakannya,

“Jelas dunk, namanya aja jelangkung, kalo dia mo pergi juga bakalan pergi sendiri. Kirain selama sebulan menghilang ini dah berhasil ngusir” cerocosku. Kebiasaanku kalo lagi nervous; mulutku bakal nyerocos terus.

“Ha..ha..ha..” sahutnya dengan tawanya yang khas. Dahiku mengerut, ni orang tambah sedeng aja, batinku.

“Udah, pokoknya ga usah kayak gituan lagi, ga jamannya. Cepetan dey jelangkungnya disuruh pergi sejauh mungkin, kalo ga mau pergi, tembak aja. E ya, maksud sms tadi apa’an siy kak?” akhirnya pertanyaan yang dari tadi mengganjal hatiku kulontarkan juga.

“Ga da maksud apa-apa” jawabnya singkat sambil menyulut rokok kreteknya.

“Trus ngapain sms?”, kejarku. Aku tidak cukup puas dengan jawaban singkat yang diberikannya barusan.

“Buang bonus” katanya, sambil mengepulkan asap rokoknya ke arahku. Aku manyun, dasar orang aneh!

# # #

Aku berharap, tapi tak banyak

Itu bunyi sms yang tadi dikirim kak Ari di tengah-tengah kuliahku, sepuluh menit sebelum akhirnya kami bertemu dan makan bakso di kantin. Rasa-rasanya ke-GR-anku selama ini benar; bahwa ada rasa lain yang kata orang indah itu bersemayam di hati kak Ari.

Ah, aku tidak bisa membayangkan jika memang benar. Kak Ari selama ini telah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Beberapa waktu sebelumnya, kak Reno yang juga teman akrab kak Ari juga melancarkan pendekatan padaku, padahal dia juga aku anggap seperti kakakku. Dan sekarang dia jauh setelah aku berusaha menjauhinya secara frontal. Malah kami seperti orang yang tak pernah kenal dekat, padahal dulu kami klop banget, sama-sama gokilnya. Eh, malah gantian kak Ari yang ada tanda-tanda ke arah situ.

Hm, Apa Tuhan memang menciptakan romantisme searah dan sejalan dengan kehidupan manusia ya? karena sejauh apapun aku menjauh darinya, ia akan datang lagi dari arah dan wujud yang berbeda. Padahal dari penampilanku, aku yakin banyak cowok yang tidak mau melirik ke arahku, tapi nyatanya, ada beberapa makhluk yang -sialnya- terpesona dengan bentuk anehku; gaya berpakaian yang sangat casual, bahkan mengesankan tak rapi sama sekali, wajah juga ga ada menariknya, tingkah sedikit tomboi, lantas, apa yang sebenarnya mereka lihat dariku? apa mungkin juga mereka silau oleh pesona berbeda yang memancar dariku, hehehe… . tapi apa bener aku ngga’ punya rasa sayang sama sekali pada kak Ari, atau kak Reno?!?

Hape-ku berbunyi, ada sms masuk. Dari kak Ari.

JAP

Aku mengernyitkan dahi begitu membaca tiga huruf yang tertera di layar hapeku itu. tak serta merta aku berhasil membaca maksud tersirat darinya.

Maksudnya?, balasku. Karena yang aku tahu, JAP adalah judul lagu Sheila On 7, dan merupakan kepanjangan dari Jadikanlah Aku Pacarmu. Apa mungkin kak Ari juga bermaksud sama dengan lagu itu? dan setahuku, dia menyukai band yang booming di era 90-an itu, seperti aku.

Beberapa detik kemudian hapeku berbunyi lagi, sms balasan dari kak Ari.

Kamu jelangkung yang selama ini kita bicarakan

Nah lho, baru aja diomongin dah kejadian beneran. Sekonyong-konyong otakku terasa blank. Aku memandang tempat tidur Reni yang kosong, sejak pagi tadi dia pulang dan mungkin baru balik lusa, padahal biasanya kalo ada hal-hal urgen kayak gini aku langsung minta pendapatnya. Trus, aku minta curhat siapa dunk, ngga’ mungkin banget kan kubiarkan hal ini berlarut-larut demi menunggu Reni balik. Jam udah nunjukkin pukul sebelas, pasti temen-temen di kamar sebelah juga udah pada tidur. Sumpah aku lagi butuh teman curhat!

Ah, napa juga aku harus pusing mikir hal kayak gini, aku bakal malu pada dunia kalo gagal memegang teguh pendirianku, pola pikir yang selama ini telah banyak aku tularkan pada banyak orang tak akan berubah hanya karena hal sepele seperti ini. apa yang harus kukatakan pada mereka yang telah aku larang mati-matian untuk menjauhi sesuatu yang bernama pacaran.

Tapi dia itu kak Ari, orang yang selama ini dekat dan telah aku anggap kakak sendiri, sosok yang diam-diam juga kukagumi karena keuletannya dalam dunia aktivis kampus, juga karena kedewasaannya,sosoknya yang sanggup menjadi kakak untukku. bisik hatiku yang lain. Polemik membuncah dalam batinku. Tak dapat kubohongi jika aku yang selama ini dikenal anti pacaran bisa gelisah juga karena hal seperti ini.

Lalu aku juga teringat pada kak Reno, kalau aku menyambut cinta kak Ari pasti aku bakal ngga’ enak hati dengan kak Reno. Aaarrghhh…! otakku serasa buntu. Tapi gara-gara capek mikir, tak lama kemudian mataku kalah juga oleh kantuk.

# # #

“Hey Re”, sapa Ghea ketika berpapasan denganku di pintu gerbang kos kami. Wajahnya berbinar kala itu, tak seperti tiga hari lalu ketika dia curhat di kamarku.

“Dah bisa senyum neeh?!” ledekku. Dia hanya membalas ledekanku dengan seulas senyum simpul di bibirnya.

“Gimana kabar dia?”

“Ga lagi-lagi deh Re, aku udah mutusin buat ngga’ mikirin dia lagi” katanya tegar.”Eh, thanks banget ya” sambungnya, masih dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Siip..sama-sama. Aku berangkat kuliah dulu ya” ucapku sambil berjalan ke luar gerbang kos.

Sepanjang perjalanan ke kampus aku bermain dengan pikiranku, dengan senyum yang sesekali tersungging. Ya, aku telah memutuskan untuk tetap teguh pada pendirianku. Tadi seusai shalat subuh aku menelfon kak Ari, membicarakan secara baik-baik tentang keputusanku untuk tak menyambut cintanya.

“Ya, sebenarnya aku juga udah mengira bakal kayak gini. Lupakan semuanya, dibuat biasa aja, anggap aku ngga’ pernah ngomong kayak gitu ke kamu” kata kak Ari di telfon, terdengar penuh ketegaran.
kak Ari, maafin aku banget..,jujur aku sayang sama kamu, tapi hanya sebatas adik-kakak, jerit batinku

“Kamu tetep adikku yang paling nakal”

Itu kata terakhir kak Ari sebelum akhirnya aku menutup telfon. Lega, itu yang kurasakan setelahnya, meski sebenarnya, ada sedikit rasa bersalah juga bersemayam di hatiku.

# # #

Hape-ku berbunyi tepat ketika aku menginjakkan kaki di kelas.

“Halo, assalamu’alaikum..” ujarku menyapa sosok di seberang sana.

“Wa’alaikumsalam. Re, ini kak Reno. Ari kecelakaan tadi waktu berangkat ke kampus. Minta doanya, soalnya dia sekarang lagi kritis, tolong teman-teman lain dikasih tau” kata kak Reno gusar.  Mataku panas, lututku serasa lemas.

Tuhan, selamatkan dia. Tolong jangan membuatku merasa bersalah!

* Cerpen ini tertulis dalam buku antologi “Titik Nol”, Tahun 2011, Azam Jaya Press

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s