Surat Cinta Buat Zian

Surat cinta
Surat cinta

Jam digital di hape-ku masih menunjukkan pukul 19.04, tapi rasa-rasanya malam minggu ini terlalu panjang dan membosankan untuk dilewati, tayangan penuh humor di tivi tak lagi sanggup mengobati sepiku. Kos-ku lengang, weekend seperti ini teman-teman lebih memilih pulang ketimbang menghabiskan akhir pekannya di kos.
Hapeku berbunyi, sms masuk!

Fi, besok ada Zian di pameran di jl. Basuki Rahmat

Aku tercekat, serasa darahku berhenti bergolak. Zian, vokalis band yang aku gilai selama berbulan-bulan ini besok ke kotaku.

Yuk, kesana!. Tanpa berpikir dua kali aku segera mengirimkan sms ini pada Ririn, temenku yang tadi sms.

Hingga pada akhirnya kami sepakat untuk berangkat, besok jam 9 pagi. aku tersenyum-senyum sepanjang malam ini, tak menyangka mimpiku untuk bertemu Zian akan tercapai. Kusiapkan baju terbaikku dan tentu saja, surat beramplop biru muda yang telah kusiapkan untuk Zian. Jadul ya?! Harre gene masih pake surat. Tapi aku rasa ini adalah media paling tepat untuk mengungkapkan kecintaanku pada vokalis berambut sebahu dengan karakter suara serak itu. secara aku memang tidak punya nomer hape, imel, atau facebook-nya.

# # #

Jam 08.45 aku sudah beranjak keluar dari kos dan berjalan menuju kos Ririn yang berjarak 500 meter dari kosku. Maklum saja, keinginan untuk bertemu Zian sudah tak terbendung lagi. Tadi malam saja mataku hampir tak mau terpejam saking senangnya.

Bus Damri yang kami tumpangi dari A. Yani membelah padatnya kota Surabaya. Kuintip surat cinta beramplop biru muda yang sejak tadi malam aku siapkan, ia masih bertengger manis di dalam tasku, sebentar lagi ia akan sampai pada empunya. Ah, aku tidak bisa membayangkan jika aku benar-benar bertemu dengannya. Sesuai petunjuk yang kami dapat dari beberapa teman yang kami tanya, akhirnya kami turun di plaza BRI.

“Mana sih tempatnya?” tanyaku pada Ririn. Dia menggeleng, tapi kemudian mengajakku menyeberang di jembatan layang yang masih 100 meter dari tempat kami turun tadi.

“Itu tuh, Fi..” ujarnya sambil menunjuk ke arah gedung tinggi di depan kami. Aku memicing, gedung itu masih lumayan jauh dari jembatan yang sedang kami seberangi.

Setelah sepuluh menit kami berjalan menyusuri jalanan Surabaya yang makin siang, makin panas, akhirnya sampai juga di tempat yang akan menjadi bersejarah untukku.

“Um.., mba’. Tar ada band dari Jakarta yang maen ya? jam berapa mba’?” tanyaku polos, tentu saja setelah memastikan loket penjual tiket telah sepi. Malu dunk kalo ada yang tahu aku Cuma pengen lihat band-nya aja, ngga’ mau beli barang yang dipamerkan.

“o, iya. Itu nanti malam, mba’. Kalo masalah jam-nya, saya kurang tahu” jawab si mba’ penjaga loket.

Aku dan Ririn saling berpandangan. Jam masih menunjukkan pukul 10.25, masih terlalu panjang untuk menunggu malam, kalo balik ke kos juga pasti tar males ke sininya lagi, ngga’ ketemu Zian dunk. Ugh!

“yawdah, kita ke toko buku dulu. Baca-baca di sana sampe bosen” kata Ririn menawarkan solusi.

Dua jam sudah aku dan Ririn menghabiskan waktu di toko buku ini. Tapi ini masih siang, dan terlalu membosankan jika harus di sini sampai malam nanti.

“ke TP aja yuk!” ajak Ririn yang kemudian aku amini.

Jalan kaki menjadi pilihan kami untuk menuju TP, yang ternyata kemudian kami sadari jaraknya tidak sedekat yang kami kira. Pun sesampainya kami di sana, tak ada satupun barang yang kami beli, kami hanya berjalan-jalan, memutari mall itu sampai pegal.

Pukul 14.05. masih ada beberapa jam lagi untuk menginjak malam. Mall di jembatan merah selanjutnya menjadi tujuan kami berikutnya.

“kalo udah dari sini, terus kemana?”

“balik?” tanya Ririn balik. Aku masygul. terlalu sayang jika harus pulang begitu saja tanpa hasil, aku bertekad harus kembali ke tempat pameran tadi, entah bagaimana caranya. Sebenarnya kasihan juga pada Ririn yang terlihat capek, tapi masa’ sih langsung pulang?! Pesona Zian terlalu kuat untuk melenyapkan lelahku menelusuri Surabaya sepanjang hari ini.

# # #

Aku mulai gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, tapi masih belum ada tanda-tanda Zian atau band-nya datang. Apa mungkin kami terlambat datang? Ah, semoga tidak.

Sengaja aku dan Ririn tidak masuk dulu dan lebih memilih menunggu di kursi yang tersedia di luar. Kutatap para pengunjung yang berseliweran di depanku, sampai kulihat sesosok yang sangat kukenal berjalan melewatiku. Tanpa pikir panjang aku dan Ririn langsung membeli tiket masuk pameran. Massa mulai menyemut, dan kemungkinan sangat kecil untuk bisa berfoto dengan Zian, apalagi menyerahkan surat cinta beramplop biru-ku untuknya.

Setelah beberapa lama menunggu, sosok yang menawan untukku itu muncul. Ternyata memang benar itu dia! Zian yang kemarin malam masih aku lihat di tivi sekarang berdiri 2 meter di hadapanku, membius para penonton dengan lagu-lagu dan aksi panggungnya yang enerjik.

Sesekali dia mengusap keringat yang berleleran di wajahnya dengan handuk kecil berwarna putih. Meski dia penuh peluh seperti itu, pesonanya di mataku tak pernah pudar, bahkan lebih memancar. Kurasa aku memang benar-benar mencintainya, lebih dari cinta seorang fans pada idolanya, aku mencintanya seperti cewek yang jatuh cinta pada cowok. Ah, aku memang gila!

“aku salut banget sama orang yang pake jilbab. Semoga sampai nanti-nanti ya!” ujar cowok beersuara serak itu di depanku. Aku tersipu, tak membayangkan Zian akan mengucapkan kata-kata itu padaku.

“ini aku punya surat buat kamu. Dibacanya tar aja kalo udah istirahat” kataku sambil menyerahkan surat cintaku.

“abis ini kan udah ngga’ ada jadwal. Kita dinner bareng aja, sambil kamu kasih tahu makanan khas Surabaya. Gimana?” tawarnya yang kemudian kujawab dengan anggukan tegas.

“heh! Balik yuk, udah jam sepuluh, ntar aku dimarahi ibu kos” seru Ririn tepat di telingaku.

“lah..Zian mana?” tanyaku heran melihat MC yang kini berdiri di panggung.

“udah selesai. Dia pulang. Kita juga harus pulang”

“suratku gimana dunk…?!”

Hiks! Zian….!

Surabaya, 9 Maret 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s