Kopi Luwakmas Kediri ; Diminati hingga Dubai

Kopi Luwak. Asli Kediri, nda!
Kopi Luwak. Asli Kediri, nda!

Aroma yang sedap dan rasa nikmat menjadi alasan kopi luwak digemari penikmat kopi. Belum lagi berbagai macam khasiat yang terkandung dalam kopi luwak. Yekti Murih Wiyati, ibu rumah tangga asal Kediri merintis usaha rumahannya dengan membuat kopi luwak. Kopi luwak produksinya pun laris manis hingga ke Dubai.

Rombongan turis asal Jerman tampak memerhatikan luwak-luwak yang dikandangkan sambil mendengarkan penjelasan dari tour guide. Pemandangan seperti ini biasa ditemukan di bangunan yang berlokasi di Jl Ngrangkah Sepawon No. 99 Pranggang Plosoklaten Kab. Kediri itu. Dalam sehari minimal dua hingga tiga rombongan turis mancanegara singgah ke tempat ini.

Rombongan Paklek dan Bulek dari Jerman
Rombongan Paklek dan Bulek dari Jerman 😀

Salah satu metode pemasaran kopi Luwakmas memang tergolong tidak biasa. Dengan menggandeng biro perjalanan internasional, hotel dan Dinas Pariwisata, kopi Luwakmas produksi CV. Ivander Bintang Kastara berhasil meraih perhatian pasar lokal hingga internasional. Dengan harga Rp 2 juta per kilogram, kopi Luwakmas telah merambah pasar Taiwan, Macau, Korea hingga Dubai.

“Relatif lebih mudah memasarkan ke luar negeri. Orang kita lebih rewel, tanya sertifikat MUI, tanya ini dan itu,” kata Yekti, pemilik sekaligus Direktur Utama CV. Ivander Bintang Kastara.

Perjalanan Ivander, putra sulung Yekti dan Juwarto ke Singapura bersama siswa sekolah SMPN 1 Kediri pada akhir 2010 menjadi awal mula usaha kopi Luwakmas. Dalam studi banding ke sister school tersebut, itu, salah seorang tutor mengatakan Indonesia sangat kaya namun rakyatnya tidak menyadari kekayaan yang dimiliknya. Salah satunya tentang kopi luwak asal Indonesia.

Bu Yekti didampingi Ivander sedang menjelaskan kopi luwak produksi CV-nya
Bu Yekti didampingi Ivan sedang menjelaskan kopi luwak produksi CV-nya

Sekembalinya ke Kediri, Ivan bersama Yekti membeli seekor luwak lantas memberinya makanan berupa biji kopi. Biji kopi yang dihasilkan luwak ini lantas diproduksi menjadi bubuk kopi. Setelah mengonsumsi kopi luwak produksinya, Yekti dan keluarganya merasa badannya lebih segar. Sejak saat itulah Yekti dan keluarganya mengembangkan kopi luwak.

Banyaknya usaha kopi luwak yang bermunculan tidak menjadikan Yekti merasa tersaingi. Terlebih, Yekti memilih untuk menonjolkan segi wisata. Di Kampung Luwakmas miliknya, pengunjung dapat melihat secara langsung luwak penghasil kopi dan proses pembuatan kopi ini. Pengunjung pun dapat menikmati secangkir kopi luwak seharga Rp 30 ribu di kursi dan meja taman yang telah disediakan.

Bu Yekti sedang menjelaskan kopi luwak produksi CV-nya
Bu Yekti sedang menjelaskan kopi Luwakmas

Disajikan dengan Kediri Style

Penyajian kopi luwak yang mempunyai brand Luwakmas ini sengaja menggunakan cara konvensional. “Kami tidak menggunakan coffe maker. Saya menyebutnya Kediri style. Diseduh, disajikan dengan cangkir batik dan ditutup,” jelas Yekti. Sebelum meminum kopi luwak, ia menyarankan untuk menutup cangkir kopi selama lima menit, kemudian hirup aromanya.

Luwak dikandangkan dan diberi makan tertentu, biar gak makan macam-macam
Luwak dikandangkan dan diberi makan tertentu, biar gak makan macam-macam

Untuk menjaga aroma dan rasa kopinya, Yekti sengaja menggunakan kopi luwak pandan. Aroma tubuh luwak pandan yang wangi membuat aroma kopi menjadi lebih sedap. Makanan luwak penghasil kopinya pun tidak sembarangan. Pisang, pepaya, dan susu segar menjadi menu makanan luwak sehari-hari. Untuk menambah asupan gizi, luwak diberi makanan daging segar sekali hingga dua kali dalam sebulan. Sedangkan biji kopi hanya diberikan tiga hingga empat kali seminggu.

Biji-biji kopi yang digunakan usaha milik Yekti berasal dari lereng gunung Kelud. Ia sengaja bekerja sama dengan petani kopi lokal untuk membantu kesejahteraan mereka. Sedangkan jenis kopi yang sering digunakan adalah kopi jenis arabica.

Para penjaga luwak sedang menuang susu di tempat minum luwak. FYI, para luwak di sini punya nama masing-masing, dan para penjaga hafal nama-nama mereka semua.
Para penjaga luwak sedang menuang susu di tempat minum luwak. FYI, para luwak di sini punya nama masing-masing, dan para penjaga hafal nama-nama mereka semua.

Hasil produksi kopi luwak bergantung pada nafsu makan luwak yang dimiliki. Ketika cuaca sangat panas atau sangat dingin luwak tidak mempunyai nafsu makan dan banyak tidur. Proses pembuatannya yang lama dan relatif sulit menjadikan harga kopi luwak lebih mahal dari kopi biasa. Ditambah dengan berbagai manfaat kopi luwak bagi tubuh.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, kopi luwak memiliki setidaknya 10 manfaat bagi tubuh. Di antaranya mengurangi resiko alzheimer, memperlancar peredaran darah, mengurangi resiko kanker, pencegahan karies gigi, memperbaiki kualitas sperma hingga mengurangi resiko diabetes mellitus.

Lama Disimpan, Rasa Lebih Enak

Luwak mempunyai insting tersendiri untuk menentukan biji kopi yang telah matang. Pada waktu memakan kopi, luwak hanya menghisap kandungan air yang ada di kopi lalu mengeluarkan kembali kulit luar kopi. Biji kopi yang masih berkulit ari masuk ke dalam pencernaan kopi luwak dan biji kopi tersebut akan keluar bersama feses luwak.

Mbak-mbak pegawai sedang menerangkan asal muasal kopi luwak. Tahu apa yang dipegang mbaknya? Yup, itu biji-biji kopi yang baru keluar dari perut luwak, bentuknya kayak feses ya? ya emang feses luwak sih :D
Mbak-mbak pegawai sedang menerangkan asal muasal kopi luwak. Tahu apa yang dipegang mbaknya? Yup, itu biji-biji kopi yang baru keluar dari perut luwak, bentuknya kayak feses ya? ya emang feses luwak sih 😀

Dalam pencernaan luwak tidak terdapat bakteri Ecoli sehingga makanan yang dimakannya akan berbentuk utuh. Enzim proteiletik yang ada dalam pencernaan luwak juga membantu proses fermentasi pada biji kopi. Tahap selanjutnya, biji kopi tersebut akan dikeringkan hingga 10 hari, baru kemudian digudangkan untuk proses fermentasi selama satu hingga dua tahun.

Sebelum diproduksi menjadi bubuk, kopi tersebut direndam selama dua hingga tiga hari untuk meluruhkan kotoran luwak yang masih menempel di biji kopi. Setelah direndam dan dicuci secara manual, biji kopi tersebut masih harus dikeringkan hingga 10 hari, didiamkan selama seminggu, ditumbuk untuk memisahkan kulit ari dan biji kopi, hingga kemudian digudangkan kembali selama kurang lebih satu bulan.Setelah melalui proses-proses tersebut biji kopi siap diolah menjadi bubuk kopi.

Biji kopi harus dikeringkan dulu. Nah, itu tempat pengeringannya
Biji kopi harus dikeringkan dulu. Nah, itu tempat pengeringannya

Karena proses panjang dalam pembuatan kopi luwak tersebut, Yekti sengaja membatasi pembelian konsumen maksimal 5 kilogram. Ia tidak memproduksi dalam jumlah banyak, bahkan cenderung sesuai kebutuhan konsumen.

*Tulisan ini telah terbit dalam Majalah “Derap Desa”, Edisi 84, Oktober 2014

Iklan

2 thoughts on “Kopi Luwakmas Kediri ; Diminati hingga Dubai”

  1. Saya pernah sekali mencoba kopi luwak, saat diseduh itu baunya wangi, tetapi rasanya kurang cocok dilidah sy karena terasa asem…sayang banget ngga bisa nikmatin kopi termahal dunia. Tapi kalau luwak white koffie sachetan hampir tiap pagi minum ^.^

    Suka

    1. iya, menurut saya memang ada sedikit asamnya, tapi rasanya enak sih, menurut saya. hehe
      saya beberapa kali mencoba kopi luwak, tapi belum ada yang seenak di Kediri ini, boleh deh kapan-kapan dicoba, 🙂
      terimakasih ya sudah berkunjung. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s