Gotong Royong; Mahakarya Indonesia dalam Jiwa Kita

“Negara Indonesia yang kita dirikan harus berdasarkan gotong royong,” kata Bung Karno di depan sidang BPUPKI, 1 Juni 1945.

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, begitu kata pepatah yang sering kita (atau hanya saya?) di sekolah dulu. Pepatah itu berarti melakukan sesuatu secara bersama-sama agar lebih ringan. Tapi apakah pepatah itu akan usang bersama dengan usangnya buku kita semasa sekolah dulu? Atau telah menyatu dan menjadi jiwa kita?

Bersama untuk Indonesia
Bersama untuk Indonesia

Bagi orang yang tinggal di pedesaan, termasuk saya, melihat beberapa orang yang bekerja sama melakukan sesuatu adalah pemandangan yang masih banyak ditemui. Ketika seseorang mempunyai hajat atau mendapatkan musibah, maka para tetangga akan datang membawa beras, gula, atau bahan sembako lain untuk meringankan beban pemilik hajat. Tak hanya membawa barang-barang itu, tapi seringkali para tetangga itu juga menyumbang tenaga. Kalau di daerah saya, hal seperti ini namanya rewang.

Tapi, bagaimana dengan di perkotaan? Di Surabaya, tempat saya berdomisili beberapa tahun terakhir, sebenarnya masih banyak juga dapat ditemui gotong royong atau kerja bakti, atau rewang. Namun, memang dengan skala lebih kecil dan ‘peserta’ yang relatif lebih sedikit daripada di pedesaan.

Lantas, bagaimana dengan Jakarta? Sejujurnya saya tidak tahu. Saya ‘kan tidak pernah tinggal di sana.

 

Bersama kita bisa!
Bersama kita bisa!

Okelah, tak perlu banyak-banyak contoh. Toh sebenarnya saya ‘hanya’ sedang ingin ‘bertanya’ apakah jiwa gotong royong masih ada dalam diri kita semua, entah itu kita yang ada di desa atau di kota.

**

Gotong royong, masih familiarkah kita dengan istilah itu? Kata gotong royong menjadi (sangat) akrab dalam benak bangsa Indonesia ketika disampaikan Bung Karno, Presiden RI pertama saat berpidato di depan BPUPKI, 1 Juni 1945.

Bapak Proklamator itu sedang mempresentasikan dasar-dasar negara yang saat ini kita kenal dengan Pancasila kepada para anggota BPUPKI dan para tokoh bangsa. Beliau menawarkan lima sila untuk dijadikan dasar negara Indonesia yang baru merdeka dua bulan sebelumnya (Agustus 1945). Lima sila itu adalah internasionalisme, kebangsaan, mufakat, perwakilan dan permusyawaratan, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan.

Bung Karno di depan BPUPKI
Bung Karno di depan BPUPKI

Jika dinilai terlalu banyak, lima sila itu diperas menjadi tiga. Kebangsaan, internasionalisme dan peri kemanusiaan dimampatkan menjadi sosio nasionalisme. Demokrasi dan kesejahteraan diperas menjadi sosio demokrasi, dan ketuhanan tetap berdiri sendiri. Ketiga dasar itu disebut Trisila.

Apabila tiga sila dirasa masih terlalu banyak, Bung Karno menawarkan satu dasar negara yang berasal dari kata Indonesia tulen, yakni gotong royong. Satu sila ini dinamakan dengan Ekasila.

“Negara Indonesia yang kita dirikan harus berdasarkan gotong royong,” kata Bung Karno. Menurut beliau, Gotong Royong adalah paham dinamis, lebih dinamis dari kekeluargaan. Kekeluargaan adalah satu paham yang statis. “Tapi Gotong Royong adalah satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, satu karyo, atau satu gawe,” lanjut beliau.

“Gotong Royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama. Perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Itulah Gotong Royong,” Bung Karno kembali menegaskan.

Ketika hampir 70 tahun pidato itu dikumandangkan founding father bangsa Indonesia, saat ini bagaimana eksistensi gotong royong di tengah kehidupan kita?

Saya rasa tak mungkin Bung Karno menawarkan Gotong Royong sebagai dasar negara tanpa memiliki pertimbangan yang matang sebelumnya.

Ketika mau milih pasangan saja kita mempunyai pertimbangan-pertimbangan, apalagi untuk dasar negara yang notabene menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan tentunya, juga untuk menanamkan kebanggaan suatu bangsa kepada negaranya. Setuju gak?

Saya yakin, Bung Karno menganggap (dan mengharapkan) gotong royong menjadi intisari kehidupan seluruh bangsa Indonesia. Tak percaya? Mari kita kupas satu persatu.

Dalam pemerintahan atau ketika diperlukan keputusan yang menyangkut kepentingan banyak orang, kita mengenal musyawarah mufakat untuk memutuskan sesuatu. Musyawarah mufakat melibatkan banyak orang untuk menyelesaikan suatu permasalahan. So, ini gotong royong ‘kan?

Dalam perekonomian, kita mengenal sistem koperasi. Dalam koperasi asas yang dipakai adalah asas kekeluargaan. Di dalam koperasi yang juga menjadi soko guru perekonomian Indonesia ini juga dikenal adanya sistem tanggung renteng, jadi kesulitan semua anggota akan ditanggung bersama, begitupun sebaliknya. Jadi, apakah ini termasuk gotong royong juga?

Selanjutnya, dalam kehidupan sosial. Di beberapa daerah di Indonesia mengenal adanya sambatan, gugur gunung, rewang, kerja bakti dan sebagainya. Dimana semua istilah itu mengacu pada kerja sama yang dilakukan banyak orang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Intinya, banyak deh aspek-aspek kehidupan kita yang mengandung inti gotong royong.

Jadi, tidak berlebihan ‘kan jika saya menganggap gotong royong adalah Mahakarya bangsa Indonesia yang—disadari atau tidak—sudah menjadi bagian dari kehidupan kita bersama.

gotong royong 3

Kita harus bangga dong jadi orang Indonesia yang mempunyai jiwa Indonesia!

**

Budaya gotong royong memang masih tertanam dalam jiwa kita. Tapi kayaknya udah banyak yang berkurang, ya. Potret gotong royong di desa dan di kota yang saya sebutkan tadi itu saya kira sudah bisa menjadi perbandingan dan penyimpul, bahwa gotong royong di desa yang masyarakatnya masih menjunjung tinggi kekeluargaan lebih terasa kental. Daripada di perkotaan yang masyarakatnya lebih heterogen dan mudah menerima budaya luar.

Gotong royong yuk..!
Gotong royong yuk..!

Ya, budaya luar yang saat ini menghantam kita dari segala penjuru memang patut kita saring. Pasalnya, budaya luar tak semua sesuai dengan kultur kita, seperti halnya liberalisme atau kapitalisme, paham yang mementingkan pemilik modal.

Ketika seseorang hanya memikirkan kepentingan sendiri, tak mau duduk bersama untuk kepentingan semua, tak mau turun tangan untuk meringankan beban orang lain, maka bukan tidak mungkin budaya gotong royong akan hilang.

That's right!
Together we can. That’s right!

Saat seseorang hanya ingin melakukan sesuatu berdasarkan pamrih (materi), maka tak mustahil gotong royong yang mempunyai nilai adiluhung itu akan lenyap.

Lantas, apa yang kita wariskan kepada anak cucu jika local wisdom sudah tak kita miliki?

Ayo kerja sama!
Ayo kerja sama!

Maka, tugas kita semua untuk uri-uri alias melestarikan itu semua. Menjadikan Mahakarya Indonesia sebagai modal sekaligus model pembangunan peradaban kita ke depan. Siap?

NB: gambar-gambar ilustrasi di atas saya ambil dari mbah google. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s