Mengenang 40 Hari Kepergian Sahabat Ahmad Matin

Innalilahi wa inna ilaihi raaji’uun…
Telah pulang ke rahmatullah, seorang teman, kerabat, dan saudara saya, Ahmad Matin, hari ini, Selasa, 11 Agustus 2015.
Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah dan dibalas dengan surga, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Aaaaamiiiin.. aaaaamiiiiin… aaaaamiiiiiin.. ya Rabbal ‘alamin.

(Alm.) Matin
(Alm.) Matin

***

Rencananya, malam ini saya akan menulis beberapa tulisan ringan tentang aktivitas harian saya. Tapi semua berubah saat salah seorang teman menelepon.

“Ya mbak, ada apa?”
“Udah denger kabarnya Matin?”
“Belum mbak, dia kenapa?”
“Dia kecelakaan di Gresik, dan meninggal”

Dezzzzing..!!

Sejenak aku blank! Antara percaya gak percaya! Gak bisa mikir! Gak bisa mencerna!
Menyesal, karena hari Minggu kemarin tidak ikut ketemuan dengan almarhum.

Ah, bayangkan saja, seorang teman yang biasanya kita guyonan, ledek-ledekan, minta pertolongan, yang meja kerjanya di sebelah kita, kita harapkan akan tumbuh tua bersama-sama dengan keluarga masing-masing, ternyata dipanggil Allah terlebih dulu, dengan mendadak. Innalillahi. .


Saya kenal dengan almarhum sekitar tahun 2010, saat kami masih jadi mahasiswa unyu yang mengikuti diklat jurnalistik dasar yang diadakan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Solidaritas, lembaga pers kampus kami. Aku semester tiga, dan almarhum semester pertama. Tapi, karena kami tidak sekelompok, kami tak terlalu kenal dekat.

Kami mulai berteman agak akrab ketika sama-sama jadi pengurus di LPM. Aku devisi Litbang, dan dia devisi HRD, kalo tidak salah. Pemimpin kami waktu itu, berusaha ngopeni kami, para anggotanya dengan mengajak kerja (bikin media bulanan dan tabloid) bareng dan makan bareng di base camp untuk membangun kedekatan emosional di antara kami, para anggota.

Kami juga semakin akrab ketika mendapat job membikin tugas laporan utama untuk tabloid dan mengharuskan hunting data ke lapangan. Bersama dua orang lainnya, Amir dan Zubaid, kami pergi ke daerah suku Tengger di Probolinggo dan mendatangi rumah sastrawan dan budayawan Madura, D. Zawawi Imron.

Ada kisah menarik sewaktu kami berempat hunting ke Tengger. Dengan modal dan pengetahuan seadanya kami berangkat naik bis dari Surabaya menuju Probolinggo. Sesampai di terminal, kami mencari carteran mobil bison agar mengantar kami ke daerah suku Tengger. Bahkan, pas berangkat dari Surabaya sebenarnya di antara kami tidak ada yang tahu harus menuju ke mana. Ya, kawasan suku Tengger tinggal meliputi Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, dan Malang (kalau tidak salah). Kami hanya tahu sekilas, bahwa di daerah Tengger ada desa yang warganya hidup rukun meski berbeda agama. Dan, kami tidak tahu itu Tengger yang mana. Ckckck..

Kami berfoto di depan kantor LPM Solidaritas, saat hendak berangkat ke Tengger.
Kami berfoto di depan kantor LPM Solidaritas, saat hendak berangkat ke Tengger.

mm

Okelah, akhirnya Zubaid, yang juga jadi koordinator rubrik tanya-tanya pada sopir dan kernet mobil bison. Kami dapat satu nama desa, dan minta diantar ke sana. Tapi karena terlalu mahal jika mencarter mobil sendiri, akhirnya kami pun harus menunggu penumpang lain.

Liputan berjalan lancar. Hujan dan gerimis yang turun tidak menyurutkan semangat kami. Maklum, ini baru pertama kalinya kami keluar liputan yang jaraknya jauh. Biasanya Cuma sekitar kampus atau sekitar Surabaya saja. Apalagi, daerah yang kami datangi sejuk dan menawarkan pemandangan yang baguuus sekali. Subhanallah..

Saat di Desa Sapikerep, Probolinggo
Saat di Desa Sapikerep, Probolinggo

Narasumber terakhir yang kami datangi mempersilahkan kami beristirahat di rumah beliau. Hari sudah sore, dan sudah jarang kendaraan yang bisa mengantar kami ke bawah. Tapi karena sungkan dan berbagai pertimbangan, kami menolak dengan halus dan memilih pulang. Barangkali nanti masih banyak angkutan, begitu pikir kami.
Setelah shalat di mushalla depan rumah narasumber kami, kami pun pamit. Beliau berpesan pada kami agar banyak baca ayat kursi (atau shalawat, saya lupa) waktu turun. Okelah, kami pamit.

Kami pun mulai berjalan turun. Perasaan kami mulai tak enak ketika hari menjelang maghrib, tapi tidak ada angkutan satu pun yang lewat. Padahal, kami harus melewati hutan-hutan yang sepi di tengah pegunungan Bromo, gerimis yang sempat turun semakin membuat kami nelangsa. Sebagai satu-satunya cewek, saya mempunyai ketakutan ekstra, takut dengan makhluk halus, manusia yang berniat jelek pada kami dan pada hewan buas, termasuk anjing.

Kehujanan, kemaleman.
Kehujanan, kemaleman.

Kami berjalan dalam diam, merapal doa, tidak berani bersuara keras atau bergurau, dan saya yang penakut terpaksa memegangi tas salah satu teman saya dan memejamkan mata. Sampai hampir dua jam kami berjalan. Hanya ada satu-dua orang yang lalu lalang. Ada rombongan bermotor yang menawari kami tumpangan, tapi kami tak mau. Dana kami sudah sangat menipis. Takut ternyata mereka tukang ojek dan menarik tarif tinggi.

Hingga kemudian, kondisi di kanan-kiri kami mulai berubah. Ada banyak bangunan dan ada toko. Aha! Kami lapar dan haus. Almarhum membeli cokelat, saya pun minta, hehe. Dia bilang, di buku yang dia baca (seingat saya, novel 5 cm) cokelat baik dikonsumsi saat naik gunung. Dan alhamdulillah.. akhirnya ada angkutan lewat yang bisa mengantar kami ke terminal. Pengalaman hari itu selalu membekas di benak kami berempat. Dan kami selalu tertawa bersama ketika mengingatnya.

Untuk kisah ini, almarhum mencatatnya dalam tulisan dan foto dengan judul “Backpacker ke Tengger”.

***

Satu angkatan kami di LPM semakin dekat seperti keluarga. Kami sering keluar bareng, kerja bareng, susah bareng, seneng bareng. Bahkan, kami juga menularkan kedekatan pada adik angkatan.

Di Pantai Papuma bersama sahabat Solidaritas
Di Pantai Papuma bersama sahabat Solidaritas

Beberapa saat setelah saya kirim doa tahlil untuk almarhum, seorang adik kelas menelfon. Dia menanyakan kabar duka yang dia tahu lewat status BBM teman-temannya. Saat saya membenarkan kabar itu, dia mulai menangis, terisak, tak percaya. Dia menyebutkan kebiasaannya bergurau dengan almarhum. Tangis yang mulai reda perlahan tumpah lagi. Sambil menguatkan diri saya meminta padanya untuk mengirim doa untuk almarhum. Karena itulah yang saat ini dia butuhkan.


Akhir 2014, pimpinan redaksi tempat saya kerja meminta temanku (yang juga teman satu angkatan di LPM) untuk dicarikan tenaga. Sebagai senior LPM, beliau lebih suka jika dicarikan anak LPM juga. Teman saya merekomendasikan almarhum. Dan sejak saat itu, almarhum mulai bekerja di majalah kami. Setelah tiga bulan training, almarhum pun berhasil menjadi bagian dari redaksi. Meja kerjanya tepat di samping kiri meja kerja saya.

Berlibur ke Lombok bersama orang kantor, saat kami masih sekantor
Berlibur ke Lombok bersama orang kantor, saat kami masih sekantor

Sebagai kawan sejawat sejak kuliah, di kantor, saya, Mbak Nur, dan almarhum sering guyon, saling meledek, gak enak-gak enakan. Ya biasa aja lah, namanya juga kawan.

Semua berjalan lancar, hingga beberapa bulan lalu dia mengikuti tes seleksi wartawan di salah satu media harian ternama di Jatim. Dia pun mengundurkan diri dari majalah kami, dan sukses menjalani seleksi di media tersebut. Dia bahagia sekali, karena bergabung dengan media itu menjadi impiannya sejak lama.

Meski berbeda tempat kerja, hubungan kami masih baik. Kami saling membantu. Bahkan, dia pernah mendapat kabar dari kami tentang salah seorang narasumber berita yang bagus. Dia datangi narasumber itu, kami minta data mentah dan beritanya juga dikasih. Meski di kemudian hari kami harus mendatangi narasumber itu lagi, tapi untuk data awal kami sudah punya, dari almarhum.

Setelah dia berpisah dengan kami, di bulan Ramadhan kemarin kami bertiga mengadakan buka bersama. Katanya dia sangat kangen sama aku dan Mbak Nur (temen di Solidaritas yang juga bekerja bersama saya). Dia datang bersama calonnya. Kami guyon, membicarakan rencana pernikahannya dengan sang calon di akhir tahun ini. Kami juga sempa jalan-jalan di bazar Ramadhan. (saya sangat menyesal, saat buka bersama ini kami tidak berfoto. Padahal biasanya dia paling suka foto-foto). ==> setelah beberapa waktu, saya baru sadar, momen kami buka bersama adalah tepat 40 hari sebelum kepergiannya menghadap Sang Khaliq.

Setelah pertemuan itu, aku juga sempat minta tolong dibarengi dia ke kantor karena motorku sedang dibawa ke luar kota. Kantorku dan pos wilayah kerjanya searah, tapi kantorku harus masuk jalan kecil dulu. Tapi dia bersedia mengantarku sampai kantor. (terimakasiiih kawan atas bantuanmu).

Apa hanya itu kebaikannya? Tentu tidak! Ada banyak sekali kebaikan, kebahagiaan dan keceriaan yang telah ia bagi dengan saya dan teman-teman lainnya. Semoga ini semua menjadi amal shalih bagi almarhum. Aaaamiiin…

Karya tulisannya bisa dijumpai di tabloid dan media bulanan kami di kampus, di majalah kami, di media harian tempatnya bekerja, di blogspot, di kompasiana, entah di mana lagi.

Scripta manent, verba volant. Yang ditulis akan abadi, dan yang akan dikatakan akan menguap bersama angin. Itulah yang kami percayai. Dan, ya! Raganya boleh berkalang tanah, jiwanya boleh berbeda dunia, namun tulisannya inshaAllah akan selalu bisa kami baca dan kami akses, dan kenangannya akan selalu hidup dalam benak kami.
Selamat jalan, sahabat.. istirahat yang tenang. Lahu alfaatihah..

Surabaya, 11 Agustus 2015
22:18 WIB

Note : Tulisan ini saya buat beberapa jam setelah kabar duka itu saya terima. Selanjutnya saya tahu ternyata almarhum kecelakaan di daerah Gilang, Sidoarjo dalam perjalanan kembali ke kantor setelah liputan. Tepat malam ini, peringatan 40 hari almarhum dilaksanakan di rumahnya, Sumenep.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s