Untukmu, Abahku

Hari ini, 12 November, kontak BBM ku kompakan bikin DP Hari Ayah. Saya kira hoax atau semacam latah gitu, eh ternyata pas buka google, malah ada doodle Hari Ayah. Jadi, pas kita klik doodle google-nya, kita diarahkan ke banyak situs, salah satunya tentang sejarah hari ayah. Dan akhirnya, saya pun percaya, kalo hari ini adalah Hari Ayah Nasional.

hari ayah
Hari Ayah; Ayah dan anak perempuannya

Sebagai persembahan untuk Ayah yang biasa saya sapa Abah, saya udah bikin coret-coretan ini. Sebenernya coretan ini udah beberapa bulan lalu, tapi karena momennya pas, izinkan saya bagi sekarang ya. 🙂

Gurat usia kian melukis wajahnya. Dalam setiap guratan itu, tersimpan berat-sulitnya kehidupan yang menempanya. Saat masih belia, ia harus berjalan puluhan kilometer dan memikul sayuran atau apapun yang bisa dijual di pasar ketika berangkat sekolah di madrasah tsanawiyah. Sebagai anak lelaki tertua, ia harus melakukan itu semua agar bisa terus sekolah dan menghidupi kelima adiknya dan dua kakak perempuannya.

Untuk melanjutkan pendidikannya, ia tak punya kemampuan lagi. Karena itulah ia berkeinginan merantau untuk menimba ilmu di sebuah daerah yang berjarak ratusan kilometer dari rumahnya. Sebuah daerah, yang kata orang yang memberitahunya, adalah tempat yang menjanjikan masa depan untuknya. Berbekal uang hasil penjualan sepeda pancal miliknya, ia memberanikan diri berangkat ke tanah impiannya.

Bermodalkan mimpi dan keinginan mengubah nasib, dia membangun mimpi di tanah impian. Jika dulu ia hanya dikenal sebagai pemuda yang tak punya apa-apa dan datang dari daerah yang jauh, kini, puluhan tahun sejak kedatangannya, ia dikenal sebagai salah satu orang yang dituakan di tanah impian. Dialah Ahmad Dawam Wahid bin Abdul Wahid, pria yang biasa kusapa dengan sebutan Abah.

Abah Ach. Dawam Wahid
Abah Ach. Dawam Wahid

Ketika mengetahui bagaimana perjuangannya untuk meraih kehidupan lebih layak, sedikit demi sedikit aku mulai tahu mengapa beliau mempunyai keinginan besar untuk melihat anak-anaknya sukses dan menjadi orang besar yang dihormati orang, meski kadang beliau harus sedikit memaksakan kehendaknya. Aku mulai memahami, bahwa sifat keras beliau lahir dari kerasnya hidup yang menempa beliau.

Me, Abah dan Ibuk
Me, Abah dan Ibuk (Oktober 2012)

Beliau adalah pria yang kuat. Hingga saat ini, beliau masih mampu menyetir mobil sendiri dari Jember (rumahku) ke Jepara ketika kami pulang kampung ke Jepara.

Dan salah satu hal yang aku salut dari beliau adalah, tekadnya untuk menjaga sholat. Secapai apapun beliau dari perjalanan, alhamdulillah beliau selalu bisa menjaga sholat, dan selalu berusaha untuk berjama’ah.

Abah, ibuk, adik-adik, pakde dan bude.
Abah, ibuk, adik-adik, pakde dan bude.

Abahku yang semoga selalu dikaruniai kesehatan oleh Allah swt. Sebagai putri sulungmu, aku mengungkapkan rasa terimakasih yang sangat besar dan tak terkira atas semua kasih sayang yang Kau berikan untukku. Kau limpahi masa kecilku dengan kemanjaan dan keinginanku yang selalu Kaukabulkan. Pun aku juga memohon jutaan maaf jika saat aku besar ini, tak semua keinginanmu bisa kuaminkan. Selamat Hari Ayah, Abah. :*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s