Belajar Membatik bersama Batik Al-Huda

Pesona batik tak lekang waktu. Terbukti dengan tingginya antusiasme para peserta pelatihan membatik yang diadakan Klinik KUMKM Provinsi Jatim. Di bawah bimbingan Nurul Huda, pembatik sekaligus pengusaha batik asal Sidoarjo para peserta belajar membuat batik sekaligus menjadi pengusaha batik.

Dengan penuh semangat Teguh mengikuti pola yang ada di kain katun. Menjadi satu-satunya peserta lelaki yang mengikuti pelatihan membatik Klinik KUMKM Provinsi Jatim tak membuatnya minder. Di tengah aktivitasnya, dia sempat bercerita mengenai alasannya mengikuti pelatihan membuat batik tulis.

“Istri saya mengajar membatik di sekolah. Juga terima pesanan di rumah. Kalau saya bisa membatik juga nanti saya bisa bantu istri,” tutur pria yang berkepala plontos itu.

Di samping itu, Teguh yang bekerja di sebuah perusahaan milik asing itu kerap mendapat tamu dari luar negeri yang meminta cinderamata khas daerah. Dengan menguasai seluk-beluk batik, dia bisa mengetahui batik berkualitas untuk diberikan kepada para tamunya.

“Kalau sudah bisa, Saya ingin memodifikasi desain batik. Entah gambar kartun atau animasi,” katanya antusias.

Alasan berbeda diungkapkan Linda, salah seorang peserta pelatihan membuat batik tulis yang berstatus mahasiswa. Gadis asal Jember itu sebenarnya berniat mengikuti pelatihan membuat hantaran, namun karena kuota peserta sudah penuh, dia pun mengikuti pelatihan membuat batik tulis.

“Syukur-syukur nanti bisa dipraktikkan di rumah dan bikin usaha,” ujar Linda yang gemar membuat aneka kerajinan tangan itu.

Selain Teguh dan Linda, ada sekitar 50 orang lain yang mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Selasa, 8 Desember 2015 itu. Sebagai pelatih, pihak Klinik KUMKM mendatangkan Nurul Huda, pembuat sekaligus pengusaha batik yang telah lama malang melintang di dunia batik.

Mbatik
Membatik bareng

Dengan telaten, Huda yang juga pemilik usaha batik tulis Al-Huda itu mengajari cara pembuatan batik kepada para peserta pelatihan. Mulai dari pemilihan bahan untuk membatik, hingga proses akhir membatik. Pria yang juga berprofesi sebagai dosen pengajar di Universitas Merdeka Surabaya itu juga menyediakan bahan-bahan sehingga para peserta bisa langsung praktik membuat batik.

Dalam acara yang digelar di gedung Kklinik KUMKM Provinsi Jatim itu, Huda tak hanya membagikan ilmu membuat batik, Huda juga memberikan wawasan tentang keahlian yang harus dimiliki pembatik dan pengusaha batik.

“Harus bersosialisasi, biar tahu banyak karakter orang. Sehingga kita bisa memuaskan pelanggan dan mereka tidak ke lain hati,” kata Huda kepada para peserta.

Ia melanjutkan, sebagai pengusaha batik yang merintis usaha sejak tahun 1982 dan telah menemui berbagai macam pelanggan, Huda bisa dengan mudah mengetahui karakter orang hanya dengan nama dan usianya. Dengan mengetahui karakter pelanggan, dia bisa memberikan saran pemilihan batik untuk pelanggannya tersebut. Hal ini tentu menjadi nilai plus bagi Huda. Bahkan, banyak pelanggan yang setia dan enggan memakai batik lain.

Selain itu, pengusaha batik juga harus pandai memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Desain dan kualitas bagus tidak berarti tanpa pelayanan yang memuaskan. Di toko batik miliknya, Huda mempunyai SOP (standard operating procedure) dalam melayani pelanggan. Di antaranya, ramah kepada pelanggan dan memberikan saran jika diminta. Dengan kisaran harga Rp 160 ribu hingga Rp 5 juta, toko Al-Huda pun menjadi referensi banyak orang yang akan membeli batik.

“Kerja keras, berdoa,jaga kualitas, dan berikan servis memuaskan,” kata Huda memberikan resep suksesnya. Dengan kiat-kiat tersebut, Huda mampu membesarkan usahanya hingga beromset Rp 3 miliar dalam setahun.

Saat disinggung mengenai MEA, pembatik yang telah memiliki ribuan desain batik ini mengajak para pelaku UKM untuk tetap optimis dan mempertahankan kearifan lokal yang menjadi ciri khas. Menurut Huda, produk UKM Indonesia berada di atas standar produk Tiongkok. Dengan produk berkualitas dan mengedepankan kearifan lokal, ia yakin produk Indonesia akan banyak dicari.

“Yang terpenting, antara pengusaha dan pemerintah satu visi dalam menghadapi MEA. Karena memang keadaan ini tidak bisa kita hindari dan harus kita hadapi,” tegas Huda.

Lestarikan Batik dengan Memberi Pelatihan

Kesuksesan dan nama besar yang diraih Huda bukan sesuatu yang instan. Dia mulai merintis usahanya sejak tahun 1982, ketika dia duduk di bangku kelas 2 SMA. Berbekal modal Rp 50 ribu yang didapat dari orangtua, ia mulai membangun usaha batiknya. Modal itu ia belikan 15 potong kain, untuk biaya lainnya ia harus mencari sendiri.

Di awal membangun bisnis batik, Huda mengaku buta tentang desain. Namun, ia selalu belajar. Karena waktu itu desain abstrak sedang menjadi tren, Huda pun mendesain batiknya dengan desain abstrak. Ia lantas menawarkan batik buatannya kepada teman dan guru-guru. Di luar dugaan, ia mendapatkan respon yang bagus. Usaha batiknya terus berjalan meski sangat fluktuatif. Namun, Huda bersyukur bisa usaha batiknya bisa membiayai pendidikannya hingga tingkat perguruan tinggi.

Nurul Huda
Bapak Nurul Huda, pembatik sekaligus pemilik usaha batik Al-Huda

Kesuksesan dalam usaha dibarengi dengan kesuksesan dalam pendidikan. Usai lulus sarjana, Huda diangkat menjadi asisten dosen dan lantas diangkat menjadi dosen tetap. Saat menjadi dosen itulah Huda mendapatkan bantuan kredit pinjaman profesi sebesar Rp 1 juta. Sebagian dana itu ia belikan kain dan sebagian lagi untuk biaya operasional. Sejak waktu itu, Huda memberanikan diri untuk mengembangkan pasar. Ia mendatangi tiap rumah, toko dan keluar-masuk pasar untuk memasarkan produknya.

Dengan model pemasaran seperti ini, batik Al-Huda kian berkembang. Banyak permintaan dari luar pulau. Bahkan, ia memiliki sekira 35 karyawan. Eksistensi usaha batik ini sedikit terusik saat krisis moneter tahun 1998 melanda. Banyak usaha batik yang gulung tikar. Namun, Huda tetap bertahan. Beruntung ia memiliki karyawan yang loyal. Mereka menyadari jika belum ada setoran dari pembeli, mereka belum dapat menerima gaji.

“Saya anggap mereka (karyawan) mitra, bukan buruh,” kata Huda. Dengan prinsip seperti ini, tak heran para karyawan loyal dengannya. Banyak dari mereka yang bekerja selama puluhan tahun, bahkan beberapa di antaranya telah membantu Huda sejak awal merintis usahanya.

Keadaan berbalik saat Unesco mengakui batik sebagai warisan dunia pada 2008. Industri batik mulai berkembang pesat, termasuk batik Al-Huda. Kondisi yang membaik ini memunculkan semangat baru bagi Huda. Menurutnya, ilmu pembuatan baik harus segera ditularkan ke banyak orang untuk melestarikan batik.

Bapak tiga anak ini mencontohkan dua desa di daerahnya yang tidak mempunyai batik lagi karena ilmu membatik yang dulu dimiliki tak pernah diajarkan ke orang lain. Huda pun meminta izin pada Bupati Sidoarjo waktu itu untuk mengajarkan ilmu membatik ke orang luar. Ijin diberikan. Huda menularkan ilmunya melalui televisi lokal selama tiga bulan.

Setelah kemunculannya di televisi lokal tersebut, banyak orang yang datang kepadanya. Hingga saat ini, telah ribuan orang yang telah diajarinya untuk membuat batik.

(ulviyatun ni’mah)

*Tulisan ini telah dipublikasikan dalam Majalah Derap Desa edisi Januari 2016 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s