Behind The Scene; Hunting Berita untuk APA

Pengen nulis tentang ini dari kemarin dulu, tapi karena ada tugas kantor dan tugas kuliah yang numpuk plus fakir kuota (hahaha), akhirnya baru sempat dan semangat bikin tulisan ini sekarang.

Ceritanya 29 Januari lalu saya dapat kabar gembira. Alhamdulillah saya diumumin jadi Juara II Lomba Anugerah Pewarta Astra. Jujur saja, ngerasa emejing sekali. Karena dalam usia karir wartawan saya yang baru sekitar 3 tahun, dengan kehendak dan kuasa Allah, saya diberi kepercayaan untuk mendapatkan prestasi tersebut. Bersaing dengan 192 artikel yang ditulis 113 wartawan dari 82 media tingkat nasional, sangat tidak menyangka saya termasuk salah satu pemenangnya.

Jadi gini, kebetulan saya suka cari info lomba dan kompetisi, khususnya lomba menulis. Saya pun berlangganan email salah satu website info lomba. Dan akhirnya saya tau ada informasi adanya lomba tersebut.

Singkat cerita, saya kemudian browsing CSR Astra di Jawa Timur, karena tema lombanya tentang itu. Dan saya menemukan di daerah Keputih, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Orang-orang sekantor saya ajakin buat ikut, mereka pengen, tapi kayaknya pada males hunting. Okelah, saya memutuskan untuk berangkat sendiri.

Sebelum berangkat ke lokasi, saya cari info-info dulu lewat jaringan kader Bapemas yang tersebar di seluruh Surabaya. Saya tanya dua orang kader yang satu kecamatan dengan lokasi CSR yang saya tuju, tapi sayangnya mereka tidak tahu. Jujur saja saya gak pernah main-main ke daerah sana, makanya begitu orang yang saya kira menguasai daerah sana tidak tahu, saya hampir putus asa dan melupakan lomba ini.

Hingga suatu waktu, entah kenapa tiba-tiba saya pengen aja berangkat ke sana. Berbekal Google Maps, saya berkendara ke sana, sendirian, ke daerah yang sama sekali belum bisa saya bayangkan. (lebay!). Perjalanan saya ke sini membutuhkan waktu hampir 1 jam. Begitu saya rasa saya mulai bingung, saya bertanya pada seseorang di pinggir jalan. Dia bilang saya harus lurus saja. Dan saya mengikuti arahan orang itu. Saya lurus saja sampe masuk perumahan, tolah-toleh mencari tulisan Kampung Astra.

“Katanya di daerah mantan tempat pembuangan akhir sampah (TPA), kok di perumahan,” gumam saya waktu itu. Saya pun lurus ke timur, berharap segera menemukan kampung yang saya maksud. Sampe saya nyampe daerah sepi. Karena takut, saya pun putar balik lalu beristirahat di teras masjid.

Waktu itu saya berkeliaran sekitar jam 11. Jam yang tepat saat matahari di Surabaya terasa panas dan membakar. Apalagi daerah yang saya datangi berada dekat dengan daerah pantai. Bisa bayangkan bagaimana panasnya? Kalo gak bisa bayangkan gak papa kok. 😀

Saya beristirahat di masjid itu agak lama. Sampai ada seorang bapak yang kira-kira usianya 60 tahun dan saya rasa beliau takmir masjid. Saya memberanikan diri bertanya pada bapak tersebut. Beliau bilang, saya harus keluar perumahan, terus belok kiri, sampai ada terminal Keputih, saya belok kiri lagi. Okay! Setelah mengucapkan terimakasih pada bapak itu, saya pun memacu Mio GT hitam kesayangan saya ke arah yang ditunjukkan tadi.

Tapi, saya masih agak bingung lagi. Hingga akhirnya saya memilih untuk minum es tebu di pinggir jalan karena saya haus banget. Siapa tau juga penjual es tebu di samping hutan bambu keputih itu bisa kasih saya informasi berguna.

Tanpa ba-bi-bu saya langsung pesan es tebu, dan mencomot beberapa gorengan. Begitu es tebu saya hampir habis, dan pasangan suami istri penjual es tebu sudah tampak tidak sibuk, saya pun bertanya tentang alamat yang saya tuju, Kampung Berseri Astra, Keputih Tegal Timur Baru.

Ternyata pasutri penjual es tebu tadi tetangga kampung itu. Mereka juga bercerita bahwa kampung itu dapat bantuan dari Astra, dan sering menang lomba Green & Clean, lomba kebersihan kampung di Surabaya. Alhamdulillah, ternyata Allah menuntun saya membeli es tebu untuk mendapatkan informasi itu. Hehe.

Setelah membayar es tebu dan gorengan, saya langsung menuju ke kampung yang diarahkan pasutri penjual es tebu. Saya ke timur sekitar 500 meter dari hutan bambu. Di pinggir jalan, saya menemukan plang tulisan Kampung Berseri Astra. Saya pun belok kanan, melewati hamparan tanah luas yang merupakan mantan TPA. Sampahnya orang se-Surabaya dulu dibuang di situ.

Sejak tahun 2001, tempat itu tidak lagi dijadikan TPA. Tapi sekarang kita masih dapat menemui onggokan bahkan gunungan sampah di tempat itu. Sampah yang belum terurai yang dibuang bertahun-tahun lalu. Ada juga onggokan sampah baru.

Di kanan-kiri tempat itu masih tampak petak-petak yang digunakan sebagai tempat tinggal, juga sebagai tempat mengumpulkan botol-botol plastik atau barang lain yang masih bisa dijual kembali.

Saya melalui tanah itu lebih dari 500 meter panjangnya. Hingga kemudian saya menemui gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Kampung Berseri Astra’. Yes! Akhirnya saya ketemu juga.

IMG_0099_Fotor
Gapura KBA Keputih

Apakah perjuangan saya berhenti di situ? Tentu tidak. Ini hanya sebuah awal.
Memasuki area kampung itu, saya sejujurnya belum tahu harus menemui siapa yang bisa saya jadikan narasumber tulisan saya. Saya pun memilih untuk berputar-putar di area kampung tersebut.

Jika di perjalanan sebelum memasuki kampung ini kita disambut dengan gunungan sampah dan suasana kumuh, maka kesan yang sangat berbeda akan kita temui begitu memasuki kampung ini. Kampungnya asri. Banyak tanaman hijau yang ditanam di depan rumah warga. Ada rambatan juga. Untuk lebih lengkapnya mengenai kampung ini, nanti akan saya post tulisan saya. Tulisan itu lah yang saja ajukan untuk mengikuti lomba APA tahun 2015.

IMG_0012_Fotor
Asri

Begitu mengetahui ada dua orang perempuan sedang ngelenthek (Jawa. Kira-kira dalam bahasa Indonesianya mengupas, eh kurang pas juga ya 😀 ) kertas di bungkus sabun saya bertanya. Tanya mereka sedang ngapain, untuk apa, dan karena sadar saya blank, saya tanya aja rumahnya Ketua RT.

Saya pun mendatangi rumah Ketua RT setempat. Sayangnya waktu itu hanya ada bu RT, pak RT sedang bekerja. Akhirnya saya pun mengobrol ngalor ngidul tentang kampung tersebut. Sampai kemudian saya menyampaikan maksud kedatangan saya, mengorek informasi tentang CSR Astra. Mendengar hal itu, Bu RT mengarahkan saya untuk menemui Pak Tri, PIC (Person in Charge) alias penanggung jawab CSR Astra perwakilan warga.

Beruntung saat itu Pak Tri ada di rumah. Orangnya ramah, sangat welcome. Istrinya juga baik hati. Kami mengobrol lebih dari satu jam. Saya juga diajak berkeliling ke kampung tersebut, melihat-lihat bank sampah, kebun pembibitan, rumah pintar, dan banyak tempat menarik di kampung itu. Dan, hasil hunting itulah yang kemudian saya ramu menjadi tulisan.

IMG_0089
Pak Tri menunjukkan Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) air wudlu
IMG_0080_Fotor
Salah satu aktivitas warga KBA Keputih; membuka jasa laundry rumahan

Next, saya akan bercerita mengenai perjalanan saya ke Jakarta untuk menghadiri undangan dari Astra. 🙂

Iklan

4 thoughts on “Behind The Scene; Hunting Berita untuk APA”

    1. Iya mbak, bentar lagi saya update saya sisipkan foto2nya. Kemarin lagi buru2, posting tulisan aja dulu, baru foto.
      Ohya, kalo foto gunungan sampahnya gak ada.. tapi ada foto suasana di jalan sekitar mantan TPA.. 😀

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s