Ramadan di Pesantren

Halo.. selamat sore menjelang maghrib, Readers.. hehe. sekitar dua jam lagi puasa pertama di bulan Ramadan tuntas, inshaAllah.

Selamat berpuasa ya, teman-teman. Semoga di hari-hari mendatang, kita semua diberi kesehatan, kekuatan, serta ketetapan iman untuk berpuasa hingga akhir Ramadan.. aaamiiin. Dan semoga kita diijinkan Allah untuk bertemu dengan Ramadan di tahun-tahun yang akan datang.. aaamiiin.

Pengalaman Ramadan saya kali ini sebenernya tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masih sendiri. Semoga di tahun mendatang saya sudah ada yang mendampingi.. #kodekeras. Hahaha.

Ngaji-kitab
Maknani kitab kuning. Pict from mualliminenamtahun.net

Sewaktu baca Jawa Pos edisi Minggu, 5 Juni 2016, di rubrik Di Balik Buku, saya menemukan tulisan Achmad Faqih Mahfudz yang menulis tulisan berjudul โ€œRamadan, Bulan Seribu Kitab di Pesantrenโ€. Ah, tulisan itu mengantarkan kenangan bertahun-tahun lalu, saat saya masih belasan tahun.

Bulan Ramadan di pesantren, (khususnya pesantren salaf dan semi salaf. Kalau pesantren modern saya tidak tahu) memang waktunya maraton, bukan lari maraton, tapi maraton ngaji kitab kuning. Beberapa hari sebelum Ramadan tiba, pengurus pesantren akan memasang jadwal waktu ngaji, pengajar, dan kitab yang diajarkan. Nantinya, para santri akan memilih pengajian apa saja yang akan diikuti. Biasanya, para kyai kharismatik paling banyak diminati. Juga ustadz yang cakep, ahem.. ๐Ÿ˜€

Di pesantren yang saya tempati, ngaji kilatan (istilah yang merujuk pada ngaji kitab di bulan Ramadan) dimulai sejak habis shalat subuh hingga setelah shalat isyaโ€™. Kitabnya pun beragam, mulai dari kitab tasawuf, nasihat, akhlak, sampai kitab persiapan menikah yang diajarkan pada santri kelas akhir. Pengajian ini dilakukan dengan metode bandongan. Guru membaca kitab beserta maknanya, dan para santri akan menulis makna pada kitab masing-masing.

Setelah ashar seperti ini, pengajian kitab Dalaail al-Khoiraat yang dikaji oleh KH. Jamaluddin Ahmad (Kyai Jamal) paling banyak diikuti para santri saat itu. Kami akan ngaji kitab ini hingga menjelang berbuka puasa. Setelah isyaโ€™, beliau akan mengaji lagi. Biasanya kitab yang sering beliau baca adalah kitab-kitab tasawuf.

Tapi.. santri yang lebih tertarik pada ilmu Fiqh biasanya mengaji pada KH. Sulthon Abdul Hadi (Kyai Sulthon). Kalau yang berminat pada ilmu tafsir dan hadis, kami mengaji pada KH Abdul Nashir Fattah.

Selain para Kyai yang saya sebutkan, masih banyak pengajian dari gus maupun ustadz yang bisa diikuti. Semua terserah para santri mau ngaji apa atau ke siapa.

Dan menurut pengamatan saya, pengajian yang paling sedikit peminatnya adalah ngaji setelah shalat dzuhur dan setelah shalat subuh. Ya gimana lagi, itu kan jamnya kritis ya.. hahaha. Saya biasanya juga ikut ngaji habis duhur sih, meskipun banyak ngantuknya. Hahaha.

ngaji
True story waktu ngaji. Pict from Google.

Semua kenangan tersebut sangat membekas hingga kini. Setelah lulus dari pesantren, saya tidak pernah melewatkan Ramadan dengan seperti itu. Waktu kuliah dulu ngajinya juga Cuma pengajian ala kajian mahasiswa sebelum maghrib. Kalau ada kesempatan, rasanya ingin kembali menjalani Ramadan dengan ngaji dan ngaji. Bukan dengan bekerja dan bekerja. Haha.

Tak hanya merindukan momennya, saya juga merindukan kyai, guru, dan teman-teman. Semoga mereka semua dikaruniai kesehatan dan umur yang panjang. Al-fatihah..

 

Iklan

8 thoughts on “Ramadan di Pesantren”

      1. Bukan anak pesantren mba, hehe. Di Padang, emang program pemerintahnya selama ramadhan kegiatan belajar mengajar dipindahin ke masjid/musholla mba. Lebih ke pesantren modern sih. Hehe

        Disukai oleh 1 orang

      2. O.. begitu.. asik ya kayaknya.. baru kali ini denger..
        Berarti kegiatan sekolah formal gitu juga dilakukan di masjid/mushola..? Atau cuma kegiatan keagamaan..?

        Disukai oleh 1 orang

      3. Yang non muslim sepertinya begitu mba. Disini kita mayoritas muslim. Sertifikat pesantren ramadhannya juga dimasukkan dalam nilai rapor siswa, bisa nambah nilai lah begitu. Untuk siswa yang masuk jenjang lebih tinggi pun akan ditanyai sertifikatnya mba

        Disukai oleh 1 orang

      4. Bagus ya.. jadi anak2 yg pesantren ramadan juga gak asal ngikut.. ada motivasi lebih krn dimasukkan dalam rapor. Thumbs up buat Pemkot Padang.. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s