Fatlakah; Berkarya dengan Hati

Banyak orang bisa melakukan hal besar, tapi sedikit yang melakukannya dengan hati. Kata bijak itulah yang menjadi pegangan Fatlakah dalam menjalani aktivitasnya sebagai abdi masyarakat di beberapa lini. Yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya. Bagaimana kiprahnya?

Kurang lebih 12 tahun Fatlakah mengabdikan dirinya demi masyarakat. Sosoknya yang humoris membuatnya mudah akrab dengan siapa saja. Dia dipercaya mendampingi fakir miskin, anak yatim, lansia terlantar, wanita rawan ekonomi, anak jalanan, hingga remaja bermasalah.

IMG_1805_Fotor
Fatlakah menunjukkan kreasi daur ulangnya

Tak hanya dalam lingkup sosial, Lakah—begitu ia disapa—juga memberdayakan masyarakat lewat bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, hingga budaya. Saat ditanya bagaimana cara membagi waktu untuk semua kegiatannya, Lakah diam sejenak.

“Saya juga kadang bingung, kok bisa jalani semua,” ucap Lakah diiringi tawa.

Dalam sehari, terkadang dia harus menghadiri tiga pertemuan. Ia akan berusaha mendatangi semuanya. Namun, jika tidak bisa, ia tidak akan memaksakan diri.

Memasuki banyak lini tidak membuat Lakah mengerjakan secara asal-asalan. Sebaliknya, ibu dari Bintang dan Akmal ini berhasil meraih prestasi di berbagai bidang yang digeluti.
“Saya bersyukur. Senang bisa membawa nama Kota Surabaya,” tutur Lakah usai menerima penghargaan juara kedua KPM (Kader Pemberdayaan Masyarakat) berprestasi tingkat Jatim, 16 Agustus 2015 lalu.

Lakah terpilih berkat usahanya memberdayakan masyarakat melalui bank sampah. Warga yang didampingi bisa meminjam uang ke Bank Sampah Sakura Mas yang didirikannya dan dikembalikan berupa sampah. Sejak didirikan pada tahun 2011 dengan modal nol rupiah, kini dana yang dimiliki Bank Sampah Sakura Mas mencapai Rp 7 juta.

Bank sampah ini tak hanya menerima sampah untuk dijual kembali, melainkan juga mendaur ulang sampah menjadi barang-barang bernilai ekonomis, seperti topi, baju, dan lainnya.

Hasil daur ulang sampah tersebut juga disewakan kepada orang lain dengan harga Rp 10 ribu per-item. Dengan harga sekian, hasil daur ulang sampah pun laris manis disewa orang. Biasanya, penyewanya adalah warga yang akan mengikuti lomba kebersihan lingkungan atau lomba yel-yel.

Tak hanya berhasil mendirikan dan mengembangkan bank sampah, Lakah juga berhasil mengubah pola pikir masyarakat lebih mencintai lingkungan. Diakuinya, mengubah pola pikir masyarakat tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu bertahun-tahun guna membuat masyarakat sadar lingkungan.

Kini, semua warga di kampungnya telah memilah sampah. Warga yang tidak memilah sampah akan mendapat teguran keras, bahkan dianjurkan pindah rumah. Sebagai salah satu media sosialisasi kepada warga, pengurus kampung sengaja membuat mural berukuran besar di pinggir jalan kampung.

IMG_1824_Fotor
Fatlakah bersama warga yang membawa botol air minum bekas yang mau dibawa ke bank sampah. Di belakangnya tampak mural peduli lingkungan.

Hasilnya, lingkungan pun bersih dari sampah. “KPM memang bertugas jadi pelopor, perantara, pendamping, pembaharu, pembina,” tutur Lakah yang juga menjadi pembina karang taruna ini.

Mitra Sekaligus Kader
Semua pencapaian yang diraihnya saat ini bukanlah instan. Ia mengawali perjalanannya dari nol. Saat sang suami wafat pada Juli 2002, Lakah sempat dilanda kebingungan. Ia merasa tidak punya keahlian apa-apa, namun harus menghidupi dua putra yang waktu itu berusia sekitar 12 tahun dan 3 bulan. Keluarga besarnya memberi motivasi dan dorongan agar selalu optimistis pada pertolongan Allah SWT.

Setahun setelah kepergian sang suami, Lakah mulai aktif bergerak dalam bidang yang disukai, yakni daur ulang sampah dan membuat administrasi. Kemampuannya mendaur ulang sampah pun dia asah. Ia juga membuatkan administrasi bagi organisasi-organisasi yang membutuhkan.

Selain itu, Lakah juga aktif mengikuti penyuluhan dan kegiatan yang diadakan Pusdakota (Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan) Universitas Surabaya. Karena keaktifannya, Pusdakota akhirnya mengajak Lakah menjadi mitra dan kader yang dilibatkan dalam setiap kegiatan.

Kemudian, Pusdakota memberikan tes kepada 20 kader yang dimiliki. Dalam tes tersebut, Lakah mendapatkan nilai terbaik pertama. Bersama salah seorang temannya yang mendapat terbaik kedua, Lakah diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti sekolah keperawatan selama dua minggu secara gratis. “Alhamdulillah, cuma lulus SMP tapi bisa paham sedikit-sedikit,” kisah Lakah saat ditemui di rumahnya, 11 November 2015 lalu.

Usai mengikuti pendidikan tersebut, Lakah mulai percaya diri untuk berkiprah. Ia menerapkan ilmu yang diperolehnya kepada warga dan lebih aktif memberdayakan masyarakat di berbagai bidang.

Saat aktif menjadi pengajar PAUD, Lakah mendapat bantuan kejar paket dari Bambang DH (Walikota Surabaya waktu itu) untuk mendapatkan ijazah SMA. Setelah mendapatkan ijazah SMA, ia menjadi Ketua PPT RW 14. Saat ini, Lakah sedang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan biaya mandiri.

Dalam menghadapi karakter masyarakat yang bermacam-macam, Lakah menggunakan budaya sebagai jalan masuk. Sebelum mendekati suatu komunitas warga, ia akan terlebih dulu mengamati kesukaan mereka.

Di balik semua itu, perempuan yang sedang mengikuti lomba PSM Dinsos Kota Surabaya dan Pro Poor Award dari Bapemas Kota Surabaya ini sangat menikmati kehidupannya. (ulviyatun ni’mah)

Bersambung..

Selanjutnya..

Iklan

8 thoughts on “Fatlakah; Berkarya dengan Hati”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s