Ketemu dan Ngobrol Asik dengan Dewi ‘Dee’ Lestari

 

Saya percaya, ketika Allah swt tidak meluluskan permintaan kita, bukan berarti Dia tidak akan memberikannya. Guru saya bilang, doa-doa yang kita panjatkan pada Allah swt memiliki tiga kemungkinan. Pertama, dikabulkan sesuai permintaan kita. Kedua, diganti dengan yang lebih baik. Ketiga, ditangguhkan dan akan dikabulkan suatu saat nanti.

Nah, ceritanya dulu ketika remaja saya suka baca novel Supernova. Pada tau dong siapa penulisnya, yup! Dewi Lestari, atau lebih akrab disapa Dee. Menurut saya, tema yang diangkat di Supernova jarang diangkat di Indonesia. Apalagi, diksinya bagus. Enak dibaca. Saya ngefans dong sama mbak Dee. Pengen banget ketemu terus ngobrol-ngobrol gitu, tanya tentang Supernova. Karena jujur saja, ada banyak pertanyaan yang bergelayut di otak saya ketika membaca Supernova.

Usai serial Supernova Petir keluar lalu mbak Dee sempat hiatus beberapa tahun, saya jadi males beli buku. Hehehe. Hasrat untuk membeli buku kembali bergelora ketika Supernova Partikel keluar, lalu diikuti Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi (IEP).

Begitu serialnya udah selesai, bukannya pertanyaan dalam benak saya berkurang, malah semakin menumpuk. Seperti review IEP di akun Goodreads, yang juga saya cantumin di blog ini.

Beberapa minggu lalu, tepatnya 17 Oktober 2016 saya di-WA sama adik junior saya di pers kampus dulu. Dia bilang tanggal 20 Oktober 2016 mau diadain Festival Jurnalistik yang menghadirkan Dewi Lestari sebagai narasumber. Tanpa ba-bi-bu saya langsung jawab akan hadir. Untung aja nggak ada agenda pas hari itu, kecuali ngantor. Tapi karena pimred saya juga alumni lembaga pers yang sama dengan saya, jadinya dia bisa maklumin.Dan datanglah hari itu. Duh, sempet deg-degan juga sih ketika mbak Dee dipanggil moderator untuk naik panggung.

Waktu Mbak Dee bicara di panggung, saya gak bisa ngikuti. Tapi saya masih bisa ketemu langsung sama mbak Dee, foto-foto, minta coretan quote di buku Supernova saya, dan yang terpenting adalah.. saya bisa ngobrol lebih privat dengan mbak Dee usai acara. Nggak berdua sih, ada adik-adik panitia dan beberapa alumni lembaga pers kampus juga yang ikut ngobrol.

(Oh iya, btw, buku Supernova IEP saya dibeliin sama sahabat dari sejak aliyah, Faiqoh. Hehehehe. Ma’acih :* )

Jpeg
Me and Dewi Lestari. *abaikan wajah kumus2 saya

Dalam obrolan itu, saya tanyain beberapa pertanyaan yang selama ini nangkring di otak saya. Pertama, yang saya tanyakan adalah, kapan lanjutan Supernova mau keluar lagi?

Kirain Mbak Dee gak mau jawab, ternyata mau. Jadi, kata mbak Dee, lima tahun lagi (catett.. lima tahun lagi) mau keluarin lanjutannya Supernova. Bukan lanjutan novelnya ya..,tapi lanjutan kisahnya. Kalo Supernova memang berakhir di Intelegensi Embun Pagi. Dan buku yang akan terbit itu menceritakan tentang anaknya Gio dan Zarah. (Yang suka Supernova pasti tau deh dua tokoh ini).

Jpeg
Karena Buku IEP saya udah ada tanda tangannya, saya minta Mbak Dee kasih quote aja di buku. *fotonya pecah 😦

Mbak Dee bilang, butuh waktu cukup lama untuk menggodok novel semacam Supernova karena memang cukup berat. Secara literatur Supernova jarang banget di Indonesia. Buku-buku seperti itu lebih banyak ditemukan di Barat.

Nah, dalam waktu dekat ini mbak Dee berencana nulis (ulang) buku, yang notabene materi lama. Kalau Perahu Kertas itu awal ditulis pada tahun 1996, yang ini malah lebih lama lagi, tahun 1993.

“Ada dua ide cerita, dan sempet kepikiran pengen ngolah dua-duanya sekaligus. Karena memang dua-duanya bertolak belakang banget. Sangat beda,” kata Mbak Dee.

Novelnya ini katanya tentang anak SMA. Tapi waktu mau nulis ulang materi ini, Mbak Dee mengalami tantangan di perbedaan kultur anak SMA jaman dulu sama jaman sekarang.

“Kayaknya lebih susah riset tentang anak SMA daripada tentang Tibet. Karena udah jauh banget. Entah gimana caranya. Mungkin harus menyusup ke SMA, buat tau feel-nya. Bahasanya juga beda,” ungkapnya.

Gimana Cara Bikin Fiksi Bagus?

Sejak jaman dulu suka Supernova, saya  berkeyakinan kalau materi yang ditulis di dalamnya sebagian besar riil dan dialami sendiri oleh Mbak Dee. Tapi ternyata, no! Hahahaha. Naif banget saya.

Jpeg
Peace! *fotonya pecah lagi. Hm.

Faktanya, tidak semua lokasi yang ditulis di novel Supernova dari awal hingga akhir pernah dikunjungi sama Mbak Dee. Tapi, bagusnya.. dia matengin di riset dan sharing sama orang yang pernah ke lokasi itu.

Ia mencontohkan, Tanjung Puting. Di Partikel, Tanjung Puting menjadi salah satu setting lokasi kehidupan Zarah. Tapi ternyata Mbak Dee belum pernah ke Tanjung Puting. Begitu juga dengan Tibet. Ternyata Mbak Dee belum pernah ke sana. Padahal, habis baca Gelombang yang salah satu lokasinya di Tibet, saya pengen banget ke sana.

Biar tidak ada yang rancu dengan kondisi aslinya, dia sharing sama orang yang pernah ke sana. Tulisannya diselesein dulu, habis itu temen yang udah pernah ke sana disuruh baca.

Mbak Dee bilang, “Ketika kita membuat fiksi bagus, (adalah) ketika kita berhasil membuatnya seperti non fiksi. Sebaliknya, ketika bikin non fiksi bagus, orang yang baca akan seperti membaca fiksi. Asik, ngalir.”

Nah, untuk membikin fiksi jadi kayak non fiksi, Mbak Dee kasih tips; campurkan sesuatu yang riil dengan sesuatu yang gak ada.

Misalnya, Bukit Jambul dan Desa Batuluhur aslinya gak ada. Tapi di dalamnya juga ditulis tentang Pasar Bogor yang orang-orang tau itu ada.

Itu aja deh tulisan tentang pengalaman saya ketemu dan ngobrol sama Dewi Lestari. Semoga ada manfaatnya, ya. 🙂

Iklan

22 thoughts on “Ketemu dan Ngobrol Asik dengan Dewi ‘Dee’ Lestari”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s