Kupu-kupu Kuning di Tol Sumo-Jombang

Beberapa hari belakangan banyaknya kupu-kupu berwarna kuning di tol Surabaya-Mojokerto-Jombang menjadi perbincangan banyak orang. Terutama di radio. Para pendengar radio yang melintasi tol tersebut melaporkan banyaknya kupu-kupu yang hilir mudik di jalan tol.

Kemarin, saya berkesempatan lewat di jalan tol itu. Suami awalnya bilang kalau dia penasaran dengan kupu-kupu kuning di Tol Sumo yang sedang dibicarakan banyak orang.

Benar saja, setelah masuk gerbang tol Warugunung, saya mulai melihat banyak kupu-kupu berwarna kuning yang berterbangan. Mereka menyeberang dari sisi tol sebelah kanan menuju sisi tol sebelah kiri.

Jumlahnya semakin banyak ketika di kanan-kiri jalan tol berupa semak-semak, pepohonan, atau sawah.

Bagus sekali!

Sayangnya saya tidak bisa turun untuk mengejar kupu-kupu atau memfoto makro. Hehehe.

Saya tidak tahu apa sebabnya. Kata suami yang jadi pendengar setia radio, katanya karena sekarang memang lagi musimnya. Saya cek di google memang gak ada statement resmi dari pihak terkait tentang fenomena tersebut.

Ya sudah, kita nikmati saja keindahannya. 😋

Iklan

Kemeriahan Countdown New Year 2019 di Icon Siam

“H̄̂ā..!!!”
“S̄ī̀…!!!”
“S̄ām…!!!”
“S̄xng…!!!”
“H̄nụ̀ng…!!!”

Ribuan orang yang tumpah di River Park, Icon Siam, Bangkok bersama-sama menghitung mundur detik-detik menjelang pergantian tahun ke tahun 2019. Mayoritas dari mereka adalah warga lokal. Sisanya adalah wisatawan yang ingin menikmati perayaan tahun baru di Bangkok, Thailand. Seperti saya dan rombongan.

Begitu hitung mundur selesai, pesta kembang api dimulai. Selama sekitar 5 menit, ribuan orang yang hadir di Icon Siam dihibur dengan berbagai macam dan model kembang api. Yang paling menarik dalam acara Amazing Thailand Countdown 2019 di Icon Siam ini adalah pertunjukan kembang api sepanjang 1.400 meter di sungai Chao Phraya yang ada di samping River Park. Icon Siam mengklaim, ini adalah pertama kalinya di Thailand.

Tahun ini, perayaan tahun baru di Bangkok dipusatkan di Icon Siam, kompleks retail yang baru dibuka pada bulan November 2018 lalu. Sebelumnya, perayaan tahun baru di Bangkok digelar di Central World.
Perayaan tahun baru di Icon Siam dimulai sejak pukul 17.00 waktu setempat.

Acara semakin meriah dengan kehadiran artis Thailand. Di antaranya Gail Sophicha, Warintorn Panhakarn, Thanapat Kawila, Norraphat Villaiphan, Frank Chatchai Thongwanchai. Janice Yan, penyanyi asal Tiongkok juga hadir untuk memeriahkan acara tersebut.

Ketika mereka menyanyi, jujur saja saya gak tau lagunya dan gak bisa ngikuti. Hanya ada 1 lagu yang saya bisa ikuti, lagu I Really Like You (Carly Rae Jepsen) yang saat itu dinyanyikan Janice Yan. Sisanya gak tau karena lagunya berbahasa Thailand. 😄

Drama Kembali ke Hotel

Dari hotel di daerah Ramkhamhaeng, cukup mudah mencari transportasi ke Icon Siam. Meskipun cukup mahal daripada waktu biasa (kondisi malam tahun baru, macet dimana-mana & banyak jalan ditutup), tapi masih ada Grab yang mau menjemput & mengantar kami.

Drama terjadi ketika kami hendak kembali ke hotel. Kami memesan grab di depan Icon Siam, tapi tidak ada satupun yang mengambil pesanan kami. Pun ketika mencegat taxi, tidak ada yang mau berhenti.

Akhirnya kami bertujuh memutuskan untuk berjalan menjauh dari Icon Siam. Hingga sampai di pertigaan (atau perempatan yak😅) agak besar. Di situ kami mencoba pesan grab dan mencegat taxi, tapi lagi-lagi tidak ada yang mau berhenti. Padahal sudah pukul setengah 2 pagi. Besok paginya kami harus bangun pagi, check out hotel, dan terbang ke Indonesia.

Akhirnya kami naik songtel agar lebih menjauh dari Icon Siam. Songtel adalah angkutan umum mirip angkot di Indonesia, tapi mobilnya berupa bak terbuka yang ditutup atasnya dan pinggirnya diberi teralis besi.

Sampai di perempatan besar, kami turun dan membayar 7 Thailand Baht (THB). Setelah itu kami harus menyeberang agar dapat angkutan yang searah dengan jalan pulang.

Kami mencoba pesan grab & mencegat taxi lagi. Tapiiii gagal. Mata sudah mulai 5 watt. Temen-temen mencoba tanya ke warga lokal. Hingga akhirnya ada seorang warga lokal, bapak-bapak, yang membantu kami. Dia menyarankan agar naik tuk-tuk dulu, kemudian baru naik taxi ke hotel.

Dia pun mencarikan tuk-tuk buat kami. Istrinya pak bos dan dua anaknya menjadi prioritas. Saya jadi gak enak sendiri, biasanya beliau dan anak-anak kalau di Surabaya pasti gak pernah kayak gini. Akhirnya istri pak Bos, dua anak, dan 1 orang teman laki-laki ikut kloter pertama. Tinggallah saya, suami, dan seorang teman perempuan.

Warga lokal yang membantu kami mencoba mencarikan tuk-tuk lagi, tapi tidak ada yang berhenti.

Hingga akhirnya saya mencoba pesan grab. Gotcha! Dapet dengan harga cukup murah. Sekitar 200-an THB.

Setelah menunggu, pemberitahuan di app saya, sopir udah dateng. Tapi kenyataannya tidak ada taxi yang datang.

“Ya Allah.. maps-nya sampean gak center,” kata mas suami ketika lihat app Grab saya.

Yak! Ternyata lokasi penjemputan saya di app gak sesuai lokasi. Karena kejauhan, akhirnya driver minta di-cancel. 😥

Setelah menunggu dengan mata tinggal 1 watt, suami akhirnya dapat Grab taxi. Begitu masuk mobil, saya & teman perempuan duduk di belakang. Kami berdua tidur.

Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan hotel. Tapi saya bingung, kenapa bentuk hotelnya beda ya? Namanya sih sama.

Si driver kami bilang ke security kalau dia mengantar tamu dari Indonesia, lalu mbak-mbak petugas resepsionis menghampiri kami yang masih terbengong di samping taxi.

“Mr. Lucas?,” tanya petugas resepsionis dengan ramah.

Hah!! Saya dan suami kebingungan. Lalu menggeleng sambil bilang “no!”. Mbak resepsionis meminta kartu hotel kami.

“Oh..,” katanya setelah melihat kartu hotel kami.

Lalu dia bilang ke driver yang intinya kami salah hotel. Kami turun di Hotel Thomson Bang Na, padahal yang bener adalah hotel Thomson di daerah Ramkhamhaeng, Bang Kapi.

Mbak resepsionis meminta driver untuk mengantar kami ke lokasi hotel kami yang sebenarnya, yang jaraknya sekitar 14 kilometer. Untungnya driver kami baik hati, dia ketawa-ketawa saja ketika tahu kami salah hotel. 😅😅

Dan akhirnya… kami diantar ke hotel yang bener. Ketika sampai lobi, jam sudah menunjukkan pukul 4 kurang. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum morning call. Dan 4,5 jam sebelum bus kami berangkat.

~~~

Pagi-pagi. Saya santai ketika melihat ke arah jendela yang kelihatannya masih pagi. Tapi saat melihat jam di HP, saya mendadak kaget. Sudah pukul 08.05.

Akhirnya saya mandi dulu, cepet-cepetan. Suami packing barang yang belum masuk koper. Setelah selesai semuanya baru kami ke bawah buat check out dan sarapan.

Untungnya masih keburu buat siap-siap dan sarapan. Gak kebayang kalo bangunnya jam 8.30 lalu ketinggalan bus. 🤦‍♀️😂😆

Ohya, S̄wạs̄dī pī h̄ım̀ (baca: sawadi bi mai). Selamat tahun baru! 😁😁

Mencicipi Street Food Thailand di MBK Bangkok

Setelah mengunjungi Wat Traimit, kami dibawa ke MBK (Mahbunkroong) Center mall, Bangkok, Thailand. Senengnya di sana lagi ada pameran.. buanyaak banget kuliner enak-enak.

Dapat tips dari Tour Guide, kalau mencari makanan halal, maka pilih stan makanan yang ada tulisannya halal. Selain itu ada cara lain yang bisa digunakan untuk memastikan makanan yang dijual halal, tips ini saya dapat dari hasil browsing, yakni penjualnya pakai kerudung atau kalau gak gitu, coba kita ngomong assalamu’alaikum.

Kebetulan makanan pertama yang saya beli adalah udang goreng. Ada tulisan halal juga di stannya.

1 paket isi 4 ekor udang gede-gede, rajangan sayur, dan sambal pedes manis harganya 300 baht. Kalo tempura udang 200 baht. Selain itu, ada juga gurita, cumi-cumi, dan kepiting.

Kenyang makan, saya lanjut muter-muter. Lalu beli mango sticky rice. Harganya 100 baht.

Di Indonesia sudah banyak yang jual, tapi saya gak pernah beli karena sangsi sama rasanya.

Tak hanya di MBK, geser dikit di lapangan samping MBK juga ada pameran kuliner. Makanan yg dijual bermacam-macam dan harganya lebih murah. Tapi karena sudah kenyang, saya cuma muter-muter aja lihat suasana. 😁

Mengunjungi Wat Traimit

Tiba di Bangkok, Wat Traimit jadi destinasi pertama yang saya kunjungi beserta rombongan.

Wat artinya kuil. Trai berarti tiga, dan mit artinya teman. Kuil ini adalah salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan yang berkunjung ke Thailand. Para agen perjalanan yang membuka paket perjalanan ke Thailand (Bangkok-Pattaya) hampir selalu memasukkan kuil ini dalam itinerary. Setidaknya dari beberapa travel agent yang saya survei sebelumnya.

Wat Traimit berlokasi di ujung jalan Yaowarat Pecinan, dekat stasiun kereta api Hualampong. Di kuil ini terdapat patung Buddha duduk yang terbuat dari emas murni seberat 5.500 kilogram dan tingginya sekitar lima meter.

Waktu saya ke sini ada cukup banyak wisatawan yang berkunjung. Mayoritasnya adalah pelancong. Sebagian bule, sebagian lagi wajah-wajah Asia seperti saya. Banyak juga warga lokal yang ingin bersembahyang.

Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi ketika berkunjung. Salah satunya adalah harus menggunakan baju sopan. Tidak boleh menggunakan rok pendek atau baju tanpa lengan. Tapi jangan khawatir, di sana ada penyewaan kain.

Di dalam kuil, pengunjung diperbolehkan untuk mengambil gambar, tapi dilarang mengambil video. Kalau ketahuan penjaga akan ditegur dan disuruh menghapus rekaman video. Soalnya saya lihat sendiri ketika ada kejadian ini. Penjaga awalnya akan menegur, lalu kalo gak mempan penjaga baru menghampiri lalu menyuruh untuk menghapus videonya.

Ohya, di pintu masuk kuil ini terdapat beberapa penjual suvenir dengan harga yang cukup terjangkau. Saya tidak belanja sih, tapi tau harga beberapa barangnya karena terpampang.

Coba-coba Aplikasi Thailand Muslim Friendly

Saya menulis ini di ruang tunggu. Menunggu pesawat yang akan membawa saya & rombongan ke Thailand via Brunei Darussalam.

Sebelum berangkat, saya cari-cari info dulu dong di sana kayak apa.

Salah satu aplikasi yang saya pasang untuk menemani perjalanan ke sana adalah Thailand Muslim Friendly, biar di sana mudah menemukan masjid, tempat makan halal, arah kiblat, dan sebagainya.

Saya belum tau aplikasi ini bakal membantu atau tidak. Coba-coba aja setelah ada blogger yang rekom. InshaAllah nanti di-update yak.

Update: Ketika sampai di Bangkok, saya coba membuka aplikasi ini. (Sebelumnya saya juga mengaktifkan lokasi) Tapi ternyata muter-muter terus. Saya coba login pake facebook, muncul tulisan kalo aplikasi ini sedang dikembangkan. Akhirnya saya uninstall.

Lalu bagaimana saya cari masjid, makanan halal, dsb? Alhamdulillah ternyata tour guide saya orang asli Thailand yang beragama Islam, jadi cukup tanya ke beliau saja. 😄

%d blogger menyukai ini: