Ayam Panggang Bu Setu, Eco Sa’estu

Bepergian ke Ponorogo dan Madiun kurang lengkap rasanya kalau tidak mampir ke Magetan. Di kabupaten yang menjadi tempat kelahiran Pak Dahlan Iskan itu ada kuliner yang hitz banget. Apalagi kalau bukan ayam panggang Bu Setu.

Kayak Bluder Cokro yang saya idam-idamkan sejak lama, ayam panggang ini menjadi salah satu kuliner yang masuk dalam bucket list saya.

Bagaimana tidak? Liputan tentang kuliner ini sering sekali berseliweran di media massa, terutama media TV. Kayaknya enaaak banget gitu.

Tempat makan Bu Setu ini gampang dicari, bahkan di Google Maps. Udah banyak banget orang yang bikin ulasannya di Google, termasuk petunjuk arahnya ke sana. Ketik saja ‘Ayam Panggang Bu Setu’ di Maps. Insha Allah gak nyasar.

Saya kemarin pun begitu. Rekan kerja saya sebenernya pernah ke sana, tapi karena lokasi rumahnya yang nylempit, jadinya agak-agak lupa. Kita pun buka Google Maps. Dan voila! Sampailah kita di rumah Bu Setu.

Jangan bayangkan makan di restoran atau depot, tempat makannya memang di rumah, literally. Ada sekitar 4 rumah yang berada di lingkup rumahnya Bu Setu. Kata teman saya, semua rumah-rumah tersebut telah dibeli Bu Setu. Jadi, ketika tamu membludak, maka mereka akan diarahkan untuk makan di rumah-rumah tersebut.

Begitu datang, saya dan seorang teman menuju ke dapur dulu. Penasaran seperti apa proses masak ayam panggang ini.

Di sini terdapat dua varian rasa ayam panggang, bumbu bawang yang gurih dan tidak pedes, serta bumbu rujak yang gurih dan pedes. Saya pun memesan ayam panggang bumbu rujak untuk dimakan di tempat. Sedangkan untuk minumnya, ada teh anget, es teh, es jeruk, dan teh botol. Kami berempat memesan es jeruk.

Karena waktu saya datang sudah sore dan tamu tidak begitu ramai, kami pun diarahkan untuk makan di ruang tengah rumah utama, dengan lesehan beralas tikar. Di depan rumah utama terdapat meja dan kursi, tapi kayaknya kurang dapet feel-nya kalau gak makan lesehan. 😀

Ketika menunggu pesanan kami datang, saya sempat berkeliling ruangan. Ada banyak fotonya Pak SBY, Bu Ani Yudhoyono, dan Mas Ibas ketika mampir ke sini. Ada juga fotonya komedian Bopak Castello, artis Pamela Bowie, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Di luar perkiraan saya, ternyata ayam panggang gak datang sendirian. Selain nasi 1 bakul, dua macam sambal (sambal terasi dan sambal bawang), lalapan, dan es jeruk, ada juga sayur urap, sayur bothok dan pelas khas Magetan.

Perlu saya garis bawahi karena di tempat asal saya, Jember, bothok dan pelas adalah sinonim. Bentuknya pun berbeda dengan yang disajikan di Bu Setu. Di tempat saya, bothok/pelas disajikan dengan dibungkus daun pisang dan dikukus. Sedangkan di Magetan, pelas dibuat dari kedelai, kacang tolo, dan kelapa parut yang dimasak sedemikian rupa.

Sementara bothok terbuat dari kacang panjang, labu siam (sepertinya), beberapa bahan lain, dan kelapa parut. Dari tampilannya semacam sayur lodeh tapi kuahnya sedikit.

Kembali ke menu utama kita, ayam panggang. 😀

Ayam panggang yang datang sudah dalam kondisi terpotong-potong dan disajikan dalam piring (plus ati ampela). Awalnya saya pikir ayam bakal datang utuh, seperti ingkung gitu. Jadi, bagus kalau difoto. Ternyata tidak. Hehehe. Tapi tidak apa-apa, yang penting rasanya, Bung! (Slogan iklan jadul. Yang paham ketahuan umurnya. 😀 )

Rasa ayamnya itu empuk dan bumbunya merasuk sampai ke dalam. Saya suka bumbunya, pedes, tapi nagih. Hahahaha. Dipadukan dengan sambal bawang, nasi punel, dan lalapan. Hmmm.. mantaapp banget!. Belum lagi ditambah es jeruk nipis yang asem-asem tapi manis itu. Walaaah.. enaknyaa..! Saya membayangkan perpaduan ini akan lebih nikmat disantap ketika siang bolong. (Ketika mengetik ini saja saya nahan ngeces, hahahah)

Dari dua sambal yang ada, saya dan teman-teman lebih suka sambal bawang. Sayangnya hanya diberi sedikit. Kalau sambal terasinya lebih banyak, disajikan di mangkuk kecil.

Saya kira kami tidak akan mampu menghabiskan 1 potong ayam, karena tampak banyak banget. Eh ternyata hanya nyisa 1 potong ayam saja. Nasi pun hanya nyisa kira-kira 1 centong nasi saja. Hahahaha.

Untuk menikmati semua makanan dan minuman yang kami pesan, plus kerupuk, kami hanya membayar Rp 130 ribu. Murah bukaaan..?

Suatu hari saya kepengen ke sini lagi bareng keluarga. Hihihi.

Iklan

29 Tahun Bluder Cokro

Dirintis sejak tahun 1989, Bluder Cokro telah memanjakan jutaan orang melalui rasa khasnya.

Berdasarkan sejarah yang yang terlukis di dindingnya, awalnya usaha ini didirikan oleh Ibu Suzana.

Rumah beliau yang beralamat di Jl. Cokroaminoto No. 36 Madiun adalah tempat berkumpul teman dan saudara.

Karena hobi memasak dan membuat kue, teman-teman beliau pun menyarankan untuk menjual hasil kreasinya, dengan dititipkan di pasar dan toko.

Pada 1989, roti bluder bikinan Bu Suzana kian diminati banyak orang. Selain dititipkan, beliau kemudian memberanikan diri untuk menjual roti di rumah dan memberi nama roti buatannya dengan nama ‘Roti Cokro’. FYI, Cokro adalah nama senjata tokoh wayang Krisna.

Usaha roti ini terus berkembang. Hingga pada kurun waktu 2001-2003, Roti Cokro dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Ketika tahun 2004, Bu Suzana meninggal dunia. Sejak saat itu usaha dilanjutkan oleh generasi kedua.

Pada tahun 2013 Roti Cokro berubah nama menjadi ‘Bluder Cokro’. Di tahun itu pula, roti ini dijual secara online.

Selanjutnya, pada tahun 2015 Bluder Cokro resmi memiliki badan usaha di bawah bendera CV Cokro Bersatu.

Pada tahun 2016, Bluder Cokro menyewa lokasi produksi di kawasan Klapa Manis Madiun. Dan pada 2017, membangun pabrik dan outlet baru di Jl Hayam Wuruk No. 51-53 Madiun.

Untuk menjawab tantangan zaman, Bluder Cokro terus menambah varian rasa. Saat ini ada sekitar 17 varian rasa. Di antaranya original, cokelat, cokelat kacang, cokelat keju, keju, strawberry, blueberry, abon sapi, abon ayam, gold cheese, ovomaltine, smoke beef, dan banyaak lagi.

Rasanya endeus.. hampir semuanya saya suka. Coba aja kalau gak percaya. 😄😄

Sukses terus untuk Bluder Cokro.. 🤗🤗

Mampir ke Toko Bluder Cokro

Kemarin, Senin, 12 November 2018 saya menghadiri acara di Ponorogo, salah satu kabupaten di daerah barat Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah.

Sewaktu perjalanan pulang sampai Madiun, saat terkantuk-kantuk, rekan saya yang waktu itu sedang menyetir memberitahu kalau di depan ada toko Bluder Cokro.

Spontan, saya langsung melek dan mengajak mampir.

Bluder satu ini meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Tsaah.. 😅.

Sekitar 4 tahun lalu saya pernah makan bluder ini, dan rasanya tuh masih saya inget sampai sekarang..

Kelembutan teksturnya bener-bener tidak tertandingi. Rotinya lembuuut banget dan rasanya sangat khas.

Sebenernya bisa aja sih beli online (belakangan saya baru tahu kalau ada toko yang jual bluder Cokro di Surabaya), tapi nggak tau kenapa saya pengen beli langsung di Madiun, kota asalnya.

Dari kejauhan, bangunan toko Bluder Cokro sangat berbeda dengan bangunan sekitarnya. Arsitektur bangunannya ala Eropa.

Dari kejauhan pula, kita bisa tahu kalau itu tokonya Bluder Cokro karena ada tulisannya gede dan mencolok.

Begitu sampai di depan toko, ternyata parkiran mobilnya full. Mobil yang saya & teman-teman tumpangi harus diparkir di depan warung kecil. Tapi tenang aja, kita gak perlu repot-repot cari parkir sendiri karena udah ada petugas yang mengarahkan.

Sebelum kita masuk, kita disambut dengan lukisan di dinding tentang seorang anak kecil mengintip seorang chef yang memanggang roti.

Mural yang menyambut kedatangan pengunjung di toko Bluder Cokro 

Ketika masuk, suasana tokonya sangat nyaman. Ambience yang dihadirkan membuat pelanggan merasa homy. Dekorasi ruangan yang digunakan juga lucu-lucu. Unik dan instagramable. Saya suka pokoknya. 😄

Dipilih dipilih.. ! Ada sekitar 17 varian rasa bluder yang disediakan Bluder Cokro. Mulai dari original sampai ovomaltine. 

Di tengah ruangan ada rak-rak roti yang menyajikan bluder aneka rasa, spiku, bagelen, dan jenis roti lain.

Sedangkan di sebelah pinggir, ada rak yang menyajikan camilan dan makanan khas madiun, seperti brem, aneka keripik, dan sebagainya.

Salah satu sudut toko Bluder Cokro yang memajang kaos. Dekorasi dinding berbentuk roti-roti lucu sekali. 😍

Saya baru tahu ternyata di sini tidak hanya menjual makanan. Di bagian ruangan lain terdapat rak yang memajang kaos dan mug all about Madiun.

Toko Bluder Cokro tidak hanya menjual makanan saja, ada kaos dan mug yang pastinya cocok buat oleh-oleh

Setelah memilih roti dan membayar di kasir, kami keluar. Di sebelah kiri pintu keluar, terdapat beberapa meja dan kursi yang di-setting untuk duduk-duduk. Di belakangnya juga terdapat mural dinding yang bagus buat jadi spot foto.

Capek belanja Bluder Cokro, kita bisa duduk-duduk di kursi yang telah disediakan untuk pengunjung 

Mau tahu apa arti lukisan 1989 itu? Saya ulas di tulisan lain, ya.

Nonton Konser Sheila on 7 (Lagi)

Sudah 2 tahun belakangan Jatim Fair absen mengundang Sheila on 7. Selama itu pula saya malas ke sana, kecuali untuk liputan saja.

Begitu dengar tahun ini bakal ngundang Sheila on 7, tentunya excited banget. Eh terus dapat kabar lagi kalau ternyata bisa beli tiket via Go-Tix.

Waktu dapat kabar ini tiket Pre sale 1 sudah sold. Tinggal Pre sale 2. Karena belum ngisi Gopay, akhirnya harus sabar nunggu sampe besok pagi. Lha dalah, ternyata Pre sale 2 udah sold juga. Tinggal VIP 50 ribu dan reguler 30 ribu. Okelah, daripada gak dapat tiket akhirnya saya pun memutuskan buat beli tiket VIP untuk 2 orang, saya dan suami.

Suami gak bisa nolak. Soalnya jauh-jauh hari saya bilang kalau tahun ini Jatim Fair ngundang Sheila on 7 saya mau nonton. 😅

Akhirnya, berbekal tiket VIP, berangkatlah kami ke Grand City, pada Minggu, 14 Oktober 2018.

Karena di akun instagram Jatim Fair kelihatan banyak banget yang antusias dengan konser ini, maka bisa dipastikan pasti akan padat banget lokasinya. Dan ternyata beneran.

Tiket OTS yang katanya disediakan 10 ribu tiket ludes hanya dalam beberapa jam. Waktu saya dateng jam 6 petang, udah banyak banget orang yang balik kucing karena tiketnya habis. Padahal loket OTS dibuka jam 4 sore.

Nyampe sana, saya harus nukerin tiket dulu di Ballroom lantai 4. Beruntung di sana gak perlu antri. Ada banyak loket penukaran tiket.

Kebahagiaan saya hanya sementara. Karena saat hendak shalat maghrib di mushala, antrinya ngalahin antri sembako. Tapi oke lah, gak apa-apa. Dari pada gak shalat, ye kaan..🤦‍♀️

Biar tidak terlalu awal masuk ke lokasi konser, saya & suami memanfaatkan waktu dengan jalan-jalan ke pameran. FYI, selain konser, di Jatim Fair juga banyak pameran.

Tahun ini ada sekitar 570 stand pameran. Ada kerajinan, kuliner, batik, elektronik, produk unggulan Jatim dan beberapa daerah lain di luar Jatim, instansi, dan sebagainya.

Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 20.00. Kami pun masuk ke lokasi.

Begitu masuk, ternyata ada kejutan. Apakah itu? Saya lanjutin besok aja ya. 😋😉😄

Dikunjungi Berbagai Kalangan

Dalam menjalankan usahanya, Lusiani bahu-membahu bersama sang suami, Sutrisno. Mereka memiliki pembagian kerja masing-masing. Lusiani bagian produksi, sedang Sutrisno berfokus pada manajerial. Perpaduan kemampuan pasangan suami istri tersebut mampu menopang Tris Flower hingga saat ini. Dari tahun ke tahun, nama Tris Flower kian dikenal.

Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi pun telah dikantongi.

Sejak tahun 2015, Tris Flower ditetapkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya sebagai sentra kerajinan daur ulang sampah. Sejak saat itu pula, semakin banyak orang yang mengunjungi usaha yang dikelola Lusiani bersama suaminya ini. Baik dari kalangan pendidikan, perusahaan, instansi pemerintah, organasasi, dan sebagainya. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Pada tahun 2015, Tris Flower mendapat kunjungan mahasiswa dari 10 negara. Di tahun selanjutnya, ia kembali mendapat kunjungan dari mahasiswa luar negeri. Kali ini, mahasiswa dari 13 negara yang berkunjung.

Selain menjadi jujukan studi banding, Lusiani juga kerap diundang mengisi pelatihan mendaur ulang sampah. Dia pernah melatih berbagai kalangan profesi dan usia. Pegawai hingga pelajar. Anak usia dini sampai dewasa.

Dirinya bersyukur tidak mengalami kendala besar dalam menjalankan usahanya tersebut. Pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga kota telah memberi banyak dukungan dan perhatian. Warga yang dulu enggan mendaur ulang sampah pun sekarang malah berlomba-lomba menyetorkan hasil karyanya.

“Saya berharap punya tempat. Jadi, ruang pamer dan tempat produksi terpisah,” harapnya. Saat ini tempat produksi, ruang pamer, sekaligus gudang bahan baku bertempat di rumahnya.

Agar usahanya lebih berkembang, Lusiani yang kerap tampil di televisi, media cetak, dan online ini selalu berupaya memunculkan kreasi baru di setiap bulannya. Sehingga, para pelanggan memiliki lebih banyak pilihan. (ulviyatun ni’mah)

Biodata:

Nama              : Lusiani Sutrisno

Aktivitas          :

  • Ketua Kader Lingkungan RW I Kel. Jambangan
  • Tutor pelatih kerajinan daur ulang sampah

Penghargaan   :

  • Kalpataru kategori perintis lingkungan BLH Kota Surabaya (2016)
  • Lomba Harapan I Mengolah Sampah Menjadi Berkah tingkat Prov. Jatim (2014)
  • Ditetapkan Disperdagin Kota Surabaya sebagai Sentra Kerajinan Daur Ulang Jambangan
%d blogger menyukai ini: